Dewa 19 Pilih Ello Jadi Personel Baru
Marcello Tahitoe alias Ello resmi menjadi vokalis baru dari band Dewa 19.
Subadi, salah seorang petani di Desa Kebonagung mengolah sawah untuk persiapan masa tanam ketiga, Kamis (28/6/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, JAKARTA—Ekspor produk pertanian Indonesia kian melempem akibat sejumlah tekanan eksternal. Adapun sektor agrikultura menjadi penyumbang terbesar kedua dalam pertumbuhan produk domestik bruto nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor produk pertanian pada Januari—Juli 2018 mencapai US$1,87 miliar, anjlok dari capaian US$2,03 miliar pada periode yang sama 2017. Kontribusinya terhadap struktur ekspor nonmigas tahun ini pun mengkerut menjadi hanya 1,80% dari 2,17% tahun lalu.
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Tuti Prahastuti menjelaskan, melempemnya performa ekspor produk pertanian lebih dipicu oleh rendahnya permintaan sejumlah produk agrikultura Indonesia dari negara lain.
“[Akibatnya] Harga [komoditas pertanian] pun terkoreksi karena permintaannya turun, terutama untuk produk-produk andalan Indonesia seperti karet dan kopi,” ujarnya, Senin (20/8).
Dalam hal ini dia mengacu kepada produk pertanian tanaman tahunan, yang menjadi kontributor terbesar secara nilai pada ekspor produk pertanian Indonesia.
Ekspor lini komoditas tersebut sepanjang tujuh bulan pertama tahun berjalan terkoreksi 24,22% secara year on year (yoy). Produk kopi, karet, dan lada hitam membukukan penurunan ekspor tertajam, yaitu masing masing turun 37,82%, 16,89% dan 67,24% secara yoy.
Menurut Tuti, pemerintah telah menyiapkan sejumlah antisipasi untuk mengatasi problema itu. Selain mencari negara pasar baru melalui pameran, pemerintah tengah memacu eksportir agar dapat memanfaatan pakta dagang bebas (free trade agreement/FTA) yang sudah terjalin.
Dari kalangan pengusaha, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan penurunan permintaan kopi global dari Tanah Air disebabkan oleh panen serentak yang terjadi di negara penghasil kopi lain, seperti Vietnam.
Kondisi itu menciptakan kelebihan pasokan di pasar global yang berujung pada turunnya harga komoditas tersebut. Pranoto menyebut, dari total produksi kopi nasional, 33% di antaranya digunakan untuk konsumsi domestik dan sisanya dijual ke luar negeri.
“Selain itu, kami melihat, dengan kelebihan pasokan global dan rendahnya harga kopi, para petani lokal pun menahan pengiriman kopi ke luar negeri,” ujarnya.
Tekanan Harga
Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane membenarkan terus melorotnya harga karet dunia sejak awal tahun ini menjadi salah satu pemicu volume dan nilai ekspor produk tersebut terjun bebas.
Berdasarkan data yang dimilikinya, harga karet dunia sempat mencapai US$202/kg pada Januari 2018 dan terus turun hingga menjadi US$160/kg pada awal Agustus tahun ini.
“Ada Vietnam yang baru-baru ini muncul sebagai produsen karet di luar ITRC [International Tripartite Rubber Council]. Pasokan mereka besar karena menyedot produksi dari Laos dan Kamboja dan mereka berhak menentukan harga di luar acuan yang ditentukan ITRC,” ujarnya.
Selain dengan Vietnam, Indonesia juga dinilainya kalah bersaing dengan sesama anggota ITRC. Pasalnya, Tiongkok sebagai negara konsumen terbesar, lebih memilih mengkapalkan impor karet dari Thailand dan Malaysia yang lebih dekat secara geografis.
Ekonom Indef Rusli Abdullah mengatakan pemerintah patut mewaspadai tren penurunan ekspor produk pertanian unggulan Indonesia, khususnya kopi. Menurutnya, tingginya permintaan dalam negeri bakal terus menggerus kuota produk kopi yang biasanya diekspor.
“Berdasarkan riset kami, dengan tingkat konsumsi kopi dalam negeri saat ini, pada 2025 Indonesia berpotensi mengimpor kopi,” katanya.
Hal itu, lanjutnya didasarkan pada tren pertumbuhan konsumsi kopi nasional yang akan terkerek 7% per tahunnya hingga 2025. Sementara itu, pertumbuhan produksi kopi dalam negeri hanya berkisar 1%-2% per tahunnya.
Rusli juga memperkirakan tingkat produksi pertanian yang relatif stagnan dan tidak selaras dengan kenaikan konsumsi dalam negeri akan memaksa RI melanjutkan kebiasaan impor produk pertanian dan pangannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis Indonesia
Marcello Tahitoe alias Ello resmi menjadi vokalis baru dari band Dewa 19.
Jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 dan perjalanan sejak pagi.
Barcelona gagal mencapai 100 poin usai kalah dari Deportivo Alaves. Hansi Flick tetap puas dengan performa pemain muda Blaugrana.
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.