Solo Prioritaskan Guru dan Nakes di CASN 2026
Wali Kota Solo Respati Ardi prioritaskan guru dan nakes dalam rekrutmen CASN. Pemkot kejar solusi kekurangan tenaga pendidikan.
Lia bersama produk Be Culture/Harian Jogja-Lajeng Padmaratri
Harianjogja.com, JOGJA—Seni lukis henna populer diadaptasi dari budaya Timur Tengah. Pengantin di sana menggunakan henna sebagai pelengkap prosesi pernikahan, meski pada akhirnya turut menjadi alternatif seni rajah nonpermanen. Seni lukis henna kemudian diterapkan di atas tas kain dan menjadi produk unik.
Tas kain dengan hiasan lukisan henna itu kemudian dinamai henna bag. Adalah Lia Nurusshabah yang merintis henna bag di Indonesia sejak 2016. Kegemarannya menghias tangannya dengan seni lukis henna, membuatnya tertarik untuk mengaplikasikannya pada totebag.
Ia bercerita, kala itu ia baru saja mundur dari pekerjaannya mengajar setelah melahirkan anak kembar. Sebelumnya Lia pernah membuat kreasi totebag berhias kain flannel, ia kemudian iseng menorehkan cat kain dengan motif henna ke tasnya. Rupanya, hasil keisengan itu berbuah manis pada usahanya.
Meski mengangkat usaha henna bag, Lia lebih sering menggunakan motif etnik dalam produknya. Oleh karena itu, ia mengusung brand bernama Be Culture untuk produknya. Ibu dua anak ini bekerja sama dengan salah satu kawannya di Jepara untuk pengadaan tas kainnya.
“Saya pernah pakai bahan kanvas, tapi sekarang lebih senang pakai katun, karena kalau dilukis prosesnya lebih enak dan hasilnya lebih bagus,” jelas Lia kepada Harian Jogja belum lama ini.
Ia mengaku mulanya langsung mengaplikasikan cat kain ke totebag sisa keisengan zaman kuliah, saat dirinya masih gemar mengkreasi kain flannel ke totebag. Karena awalnya menerapkan motif henna, ia sempat menjajal tinta khusus henna ke atas kain.
“Tapi rupanya tinta henna enggak cocok buat kain, soalnya kalau dicuci kan luntur. Saya enggak bisa, inovasi cat kain aja karena nggak luntur,” kata dia.
Melalui Instagram @Be.Culture, Lia mempromosikan usahanya. Banyak order didapatnya, mulai dari permintaan motif dan objek tertentu pada tas, bahkan aplikasi motif henna itu ke berbagai jenis produk. Kini, ia menerima permintaan untuk totebag, tas selempang, pouch, hingga tas punggung. Jika ada permintaan khusus, Lia juga bersedia membuatkan sarung bantal bermotif henna, hingga kaus.
Seluruh motif yang ditorehkannya pada tas kain merupakan karya buatan tangannya. Sehingga, jika mendapat pesanan yang cukup banyak, ia berupaya untuk konsisten menyeragamkan motif, meskipun antara satu tas dengan lainnya pasti akan menghasilkan karya yang tidak sama, meski sudah dibuat semirip mungkin.
Sempat juga ia mendapatkan permintaan untuk motif henna yang di-print pada kain. “Jadi saya lukis dulu di media lain, lalu saya print ke kainnya dalam jumlah banyak,” kata perempuan asli Jakarta ini.
Lia yang sempat menuntut ilmu di Brunei Darussalam tak hanya membidik konsumen dalam negeri untuk produknya. Melalui beberapa relasinya, ia bisa memperkenalkan produk Be Culture kepada orang-orang Brunei Darussalam, Kamboja, hingga Jepang.
“Tapi mereka enggak minta kirim online, kebanyakan malah pesan dulu lalu ambil ke sini pas mereka ke Indonesia.”
Untuk pasar dalam negeri, pelanggannya rata-rata berasal dari kawasan Jabodetabek. “Sebelum di Jogja, usaha saya kan basisnya di Jakarta. Di sana yang beli banyak orang kantoran. Setelah ke sini, kayaknya banyak mahasiswa,” katanya.
Promosi Usaha
Selain memanfaatkan jejaring sosial Instagram, Lia juga menggunakan beberapa portal marketplace sebagai tempat promosi usahanya. Di Jogja, meski belum memiliki toko fisik, ia akan menerima pelanggan jika mereka berkenan melihat produknya di rumahnya di Jalan Banteng Baru IV No.6, Banteng, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Selain itu, ia juga menitipkan produknya ke toko produk handmade di Jogja.
Untuk produk henna bag, ia mematok harga Rp60.000 untuk totebag dan slingbag. Sedangkan, tas punggung bisa mencapai harga Rp100.000. Sementara itu, untuk produk kecil seperti pouch seukuran ponsel, produknya bisa didapatkan cukup seharga Rp15.000. “Tergantung motif dan warnanya. Kalau silver dan gold, bisa lebih mahal,” kata dia.
Selain dibantu kawannya yang memproduksi tas, Lia mengerjakan sendiri seluruh lukisan henna pada produknya. Dalam sebulan, ia mengaku bisa mendapatkan rata-rata 50 pesanan.
“Tapi kalau ada pesanan banyak bisa sampai 100-500 buah. Bisa buat suvenir wedding atau dari institusi,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wali Kota Solo Respati Ardi prioritaskan guru dan nakes dalam rekrutmen CASN. Pemkot kejar solusi kekurangan tenaga pendidikan.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.
Pemkab Bantul memantau harga pangan usai rupiah melemah. Sejumlah komoditas lokal masih aman, warga diminta tidak panic buying.