Ekspor Banyak Bergantung SDA Mentah, Saatnya Dorong Kinerja Industri Nonpertambangan

Ekspor Banyak Bergantung SDA Mentah, Saatnya Dorong Kinerja Industri NonpertambanganKapal kargo melakukan bongkar muat di terminal petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/4/2018). - Bisnis Indonesia
20 Desember 2018 23:17 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Pemerintah dinilai perlu mendorong kinerja industri nonpertambangan karena selama ini ekspor yang dilakukan lebih banyak bergantung kepada sumber daya alam yang mentah dan cenderung tidak bernilai tambah.

"Pemerintah perlu mendorong tumbuhnya industri non-ekstraktif yang berdaya saing di pasar internasional," kata Peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman dalam keterangan tertulis, Kamis (20/12/2018).

Menurut dia, dengan mendorong tumbuhnya industri nonekstraktif, diharapkan akan mendorong diversifikasi ekspor.

Dengan demikian, lanjutnya, neraca perdagangan ke depannya tidak akan bergantung kepada komoditas alam yang tren harganya cenderung volatil.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan selain investasi, peningkatan nilai ekspor adalah salah satu kunci dari pertumbuhan ekonomi.

Sesuai dengan amanat Presiden RI Joko Widodo, ujar Mendag, pertumbuhan ekonomi nasional hingga tiga tahun mendatang ditargetkan sebesar 5,4 persen. Target ini bisa tercapai jika didukung oleh peningkatan ekspor dan investasi.

Enggartiasto Lukita juga mengemukakan bahwa Kemendag menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 11 persen tahun 2018 ini.

Untuk meningkatkan nilai ekspor, Mendag menuturkan bahwa pihaknya telah menjalankan beberapa langkah strategis, diantaranya, dengan memfokuskan kembali ekspor dari produk primer ke produk industri atau olahan dan kemudian diversifikasi produk ekspor.

Sebagaimana diingatkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, kondisi yang terkait dengan defisit neraca transaksi berjalan yang terjadi pada tahun ini merupakan defisit yang sehat, karena impor untuk belanja modal lebih besar dari impor konsumsi.

"Defisit ini adalah defisit yang sehat karena untuk keperluan perekonomian, impornya untuk investasi. Impor yang tumbuh 12-13 persen 'mostly' karena kegiatan ekonomi, kegiatan investasi, pembangunan infrastruktur yang memang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh 5,1-5,2. Artinya relatif impor capex di atas impor konsumsi. Ini yang memberikan optimisme," ujarnya saat menjadi pembicara utama pada diskusi CORE Economic Outlook 2019 di Jakarta, Rabu (21/11).

Sumber : Antara