Selisih Paham Antara Driver & Perusahaan Tranportasi Berbasis Online Bisa Diselesaikan Secara Musyawarah

Selisih Paham Antara Driver & Perusahaan Tranportasi Berbasis Online Bisa Diselesaikan Secara MusyawarahIlustrasi helm milik pengendara Gojek. - Reuters/Beawiharta
16 April 2019 22:12 WIB Budi Cahyana & Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perbedaan pendapat antara driver dan perusahaan transportasi berbasis daring perlu diselesaikan secara musyawarah dan tanpa intimidasi. Demonstrasi secara sporadis dinilai tak akan terlalu efektif.

Pengamat ekonomi dari UPN Veteran Yogyakarta Ardhito Bhinadi mengatakan selisih paham yang muncul antara Gojek dan mitranya butuh penanganan secara menyeluruh oleh pemerintah. Menurut dia, pemerintah harus lebih aktif menyelesaikan masalah ini demi kepentingan bersama. Pemerintah bisa mengambil langkah serupa dengan cara penyelesaian masalah tarif penerbangan, yakni menjembatani perundingan tarif batas atas dan batas bawah yang menguntungkan semua pihak.

Selain itu, driver gojek, menurut dia, perlu berhimpun dalam wadah yang lebih luas dan tak hanya sebatas organisasi di tiap daerah.

“Perusahaan penyedia transportasi berbasis aplikasi memiliki badan hukum, sehingga mitra mereka pun perlu membentuk organisasi yang lebih besar mencakup seluruh Indonesia agar bisa bermusyawarah dengan perusahaan,” kata Ardhito kepada Harianjogja.com, Selasa (16/4/2019).

Aksi massa yang hanya dilakukan di tiap daerah tidak akan efektif karena kepentingan yang dibawa beraneka ragam.

Sebelumnya, pada Selasa (9/4/2019) para mitra perusahaan transportaasi berbasis aplikasi online yang tergabung dalam Front Independen Driver Online Indonesia (FI) mengumumkan aksi demo berupa mogok makan.

Para peserta aksi demo di Jogja, merupakan mitra pengemudi roda empat yang sudah diputus mitra kerja oleh Gojek. Mereka terindikasi melanggar sistem kerja seperti order fiktif berulang kali.

Mereka menuntut beberapa poin, mulai pemutihan atau pemutakhiran data akun mitra driver PT Gojek Indonesia dan Grab Indonesia. FI juga meminta penghapusan sistem peringkat dan alokasi order dan menuntut pengembalian jumlah poin skema insentif. Peserta aksi juga meminta Gojek untuk meninjau ulang perjanjian kemitraan untuk lebih berazaskan kesetaraan dan berkeadilan.

Namun, aksi ini sebaiknya disalurkan dalam satu wadah secara musyawarah. Pengerahan massa, terutama dalam suasana Pemilu 2019, cukup rawan menimbulkan persoalan.

Sekjen Paguyuban Gojek Driver Jogjakarta (Pagodja) Widi Asmara mengimbau pada mitra Gojek untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Pagodja mengatakan mitra masih bisa mencari order. Namun, pihaknya berpesan agar para driver roda dua tetap menghargai rekan-rekan roda empat yang sedang berjuang lantaran sesama para pejuang jalanan.

Dia mengharapkan jangan sampai ada gesekan apalagi bentrok fisik antarsesama driver online Gojek. Hal ini bisa jadi preseden buruk untuk masyarakat DIY. Ia berharap hal ini segera terselesaikan dengan baik.

Gojek sudah menutup kantor operasionalnya di DIY untuk sementara waktu mulai Jumat (12/4/2019) hingga waktu yang akan ditentukan di kemudian hari. Hal ini terkait penyampaian aspirasi oleh driver taksi online di kantor operasional Gojek cabang Jogja.

VP Corporate Affairs Gojek Indonesia Michael Say mengatakan dalam menjalankan operasionalnya di Indonesia, Gojek selalu mengedepankan keamanan dan kenyamanan publik.

“Dikarenakan aksi ini tidak berizin dan berbagai cara mediasi tidak dapat dilakukan, untuk mencegah gesekan yang berpotensi terjadi antara berbagai pihak, termasuk masyarakat sekitar dan ribuan mitra-mitra kami lainnya, Gojek akan menutup kantor operasionalnya di Jogja untuk sementara waktu mulai 12 April 2019 hingga waktu yang akan ditentukan di kemudian hari,” kata dia, Jumat.

Ia mengatakan Gijek mengungkapkan permintaan maaf sebesar-besarnya untuk ribuan mitra lainnya yang tidak mengikuti aksi ini, dan masih terus berjuang tiap hari untuk mencari nafkah bagi dirinya dan keluarganya. Menurut dia, hal ini penting untuk dilakukan agar dapat menjaga suasana tetap kondusif jelang Pilpres dan Pemilu 2019, utamanya di DIY.

“Dalam komunikasi kami dengan mitra kami dari Sabang sampai Merauke, kami selalu membuka ruang diskusi dua arah antara mitra pengemudi dan manajemen melalui Kopdar Mitra Gojek di mana mitra bebas menyampaikan aspirasi dan masukan mereka,” ujar Michael.

Michael mengatakan dalam aksi yang terjadi dalam beberapa hari belakangan pun, Gojek telah memberikan kesempatan bagi driver taksi online tersebut untuk berdiskusi dengan manajemen Gojek baik itu dari Jawa Tengah dan Kantor Pusat. Namun, hal itu ditolak sehingga tidak pernah mendapatkan titik temu.

“Selain itu tempat teduh yang layak bagi penyampai aspirasi serta tenaga medis berikut ambulan untuk memastikan kondisi kesehatannya dalam keadaan baik juga ditolak oleh pelaku aksi,” ujar Michael.

Ia mengimbau kepada seluruh mitra yang menyampaikan aksi, Gojek siap untuk berdiskusi.

“Tanpa aksi-pun seluruh aspirasi mitra selalu kami tampung, semangat kami dr pertama kali beroperasi di Jogja sampai dengan sekarang masih tetap sama, yaitu agar melalui teknologi yang kami kembangkan seluruh mitra dapat memiliki peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan.”