Layanan Prima Jadi Kunci Desa Wisata Hadapi Revolusi Industri 4.0

Layanan Prima Jadi Kunci Desa Wisata Hadapi Revolusi Industri 4.0Peserta pelatihan Membangun Desa Wisata di Indonesia dengan Kualitas SDM 4.0 yang digelar di Jogja, pekan ini. - Ist/BCA.
28 Juni 2019 07:07 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Pengelola desa-desa wisata harus terus menumbuhkan inovasi dan meningkatkan standar pelayanan kepada wisatawan. Dengan layana prima, desa wisata dinilai mampu menghadapi persaingan di era revolusi industri 4.0.

Executive Vice President BCA Inge Setiawati mengatakan untuk terus meningkatkan layanan prima pihaknya memberikan pelatihan Membangun Desa Wisata di Indonesia dengan Kualitas SDM 4.0. Pelatihan tersebut juga menjadi sarana evaluasi berbagai kemajuan dan tantangan yang terjadi pada desa-desa wisata binaan BCA.

Peserta pelatihan berasal dari para pengurus desa. Mereka dilatih untuk berpikir kreatif dan inovatif agar menciptakan terobosan baru di desa masing-masing. Dia berharap, kegiatan ini dapat turut membangkitkan kembali komitmen untuk memajukan kelompok sadar wisata dan potensi alam setempat.

Jika kualitas pengelola desa wisata meningkat, lanjut Igne, maka mereka akan mampu meningkatkan standar pelayanan di desa-desa wisatanya demi bersaing dengan destinasi-destinasi lain. "Ini kami lakukan untuk menjamin desa-desa wisata itu terus berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi yang berkelanjutan," katanya melalui rilis yang diterima Harian Jogja, Kamis (27/6/2019).

Pihaknya berkomitmen untuk terus mendampingi desa-desa wisata binaan.  Salah satunya melalui kegiatan pelatihan yang ditujukan kepada segenap penanggung jawab yang terlibat dalam pengembangan desa-desa wisata. Pelatihan tersebut diberikan untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik, terutama terkait standar pelayanan prima kepada segenap pengunjung.

"Di era kompetisi terbuka saat ini,  destinasi-destinasi baru terus tumbuh di segala penjuru Indonesia. Kami ingin agar pengetahuan, wawasan, keterampilan operator desa-desa wisata tersebut terus terupdate dengan perkembangan dan kebutuhan saat ini," harapnya.

Selama pelatihan diberikan, peserta belajar langsung dengan Kepala Desa Candirejo Tatak terkait pengelolaan desa wisata. Peserta juga diajak studi banding dengan mengunjungi salah satu desa wisata Desa Kaki Langit. Rangkaian acara ditutup dengan berkeliling Malioboro. Di tempat ini, para peserta kembali mendapat pengetahuan dalam membangun area wisata yang digemari wisatawan lokal maupun mancanegara.

Pimpinan BCA KCU Jogja Anggardini Swadari menambahkan di wilayah DIY BCA memiliki beberapa desa binaan. Seperti Wirawisata Goa Pindul, Desa Wisata Pentingsari, Wisata Wayang Wukirsari. BCA juga membina komunitas Petani Jahe Emprit di Pemalang dan Jepara. "Kami mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang berkesinambungan di pedesaan dengan menciptakan keadaan supaya masyarakat mampu bertumbuh dan mencapai kemajuan secara mandiri," katanya.