Bawang Merah Penyebab Inflasi Kota Jogja

Bawang Merah Penyebab Inflasi Kota Jogja Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Heru Margono (kanan) saat memaparkan perkembangan Indeks Harga Konsumen/ Inflasi November, di Kantor BPS DIY, Senin (2/12)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
03 Desember 2019 07:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bawang merah menjadi andil terbesar yang mendorong terjadinya inflasi di Kota Jogja pada November, yang mana inflasi tercatat 0,31%. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Heru Margono mengatakan inflasi yang terjadi dinilai masih dalam taraf wajar. “0,31 Persen tersebut masih dalam batas wajar. Pendorong inflasi terbesar bawang merah,” ucap Heru, Senin (2/12).

Berdasarkan data BPS DIY inflasi terjadi karena naiknya harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan naik 0,86%, kelompok makanan jadi minuman, rokok dan tembakau naik 0,05%, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar naik 0,18%, kelompok kesehatan naik 0,88% dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan naik 0,23%. Sedangkan kelompok sandang turun 0,01% dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga relatif stabil.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada November 2019 sehingga memberikan andil mendorong terjadinya inflasi di antaranya bawang merah naik 34,31% dengan memberikan andil 0,10%, daging ayam ras naik 4,03% dengan memberikan andil sebesar 0,04%, angkutan udara dan telur ayam ras naik 2,50% dan 4,62% dengan memberikan andil masing-masing sebesar 0,03%, brokoli, jeruk dan tukang bukan mandor naik 23,26%; 3,54% dan 0,70% dengan memberikan andil masing-masing sebesar 0,02%, lalu semen, kacang panjang, dokter gigi, dokter umum, sepeda motor, dokter spesialis, buncis, bayam, tomat sayur, beras, ongkos bidan, ketimun dan biaya untuk kb naik 2,71%; 12,25%; 14,74%; 2,49%; 0,60%; 2,83%; 16,91%; 6,58%; 14,14%; 0,25%; 4,35%; 16,47% dan 8,34% dengan memberikan andil masing-masing sebesar 0,01%.

Sebaliknya komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi di antaranya cabai merah turun 18,51% dengan memberikan andil sebesar -0,05%, cabai rawit turun 14,66% dengan memberikan andil sebesar -0,03%, lalu pir, emas perhiasan, telepon seluler, cabe hijau, ayam hidup dan daun melinjo turun 13,14%; 0,89%; 1,95%, 12,04%; 4,32% dan 14,98% dengan masing-masing memberikan andil sebesar -0,01%.

Pada Desember 2019, diprediksi akan ada kenaikan harga yang memicu inflasi lebih tinggi.  “Desember sepertinya naik, persiapan Natal, Tahun Baru biasanya mengerek harga. Biasanya seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi nanti kita lihat,” katanya. 

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yanto Aprianto mengatakan pada pekan ini memang ada kenaikan harga yang cukup besar pada bawang merah. "Pekan ini mengalami kenaikan cukup besar hal ini karena permintaan, tetapi demikian harga masih di bawah acuan pemerintah. Saat ini harga kisaran Rp25.600/ kilogram (kg)," ucap Yanto.