MBG SMKN 2 Jogja Dihentikan Usai 413 Warga Sekolah Diduga Keracunan
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Beberapa gerobak sampah berjejer di depan depo pembuangan sampah sementara di samping Stadion Mandala Krida, Umbulharjo, Jogja, Senin (9/5/2022)./Harian Jogja-Sirojul Khafid
Harianjogja.com, JOGJA—Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menyebut masalah sampah telah mulai berdampak ke sektor pariwisata.
BACA JUGA: Pemda DIY Terima Tawaran IKEA Soal Sampah Plastik
Beberapa wisatawan mulai menanyakan perihal sampah yang semakin mudah ditemukan di jalan-jalan Jogja.
Ketua GIPI DIY, Bobby Ardianto mengatakan masalah sampah yang belum kunjung rampung ini membuat citra wisata DIY menjadi negatif. Wisatawan sekarang menjadikan Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment Sustainability (kelestarian lingkungan) (CHSE) sebagai bagian dari gaya hidup selepas pandemi.
"Kalau progress pengelolaan sampah ini tidak segera terselesaikan, tentunya kami bisa melihat bersama beberapa daerah lain yang mengalami kejadian sama, menjadikan mereka juga lambat laun akan ditinggalkan oleh wisatawannya," paparnya, Rabu (16/8/2023).
Semua pihak mesti terlibat dalam pengelolaan sampah ini. Dari sisi industri dan rumah tangga sebagai produsen sampah wajib memilah sampah organik dan anorganik. Sebab, kata Bobby, masalah sampah adalah masalah personal. Sehingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya mengelola residu saja.
"Pastikan distribusi sampah yang sudah terpisah di bawa dan terdistribusi secara terpisah pula. Meskipun upaya pengelolaan sampah organik wajib dilakukan di rumah tangga masing-masing seperti program Dirjo Pemkot dilakukan [gerakan mengolah limbah dan sampah dengan biopori]."
Dia berharap Kabupaten/Kota serius dalam melakukan pengelolaan sampahnya. Memastikan kebijakan pengelolaan di atas terimplementasi. "[Wisatawan] mempertanyakan iya [perihal sampah]," lanjutnya.
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo mengatakan, sampah ini masih menjadi perhatian bersama hingga saat ini. Menurutnya tumpukan-tumpukan sampah yang ada di jalanan membuat buruk citra Jogja sebagai destinasi wisata.
"Bulan Agustus ini okupansi anjlok dibandingkan Juni, Juli. Saat ini okupansi rata-rata kisaran 20% sampai 45%. Sangat jauh dari target, kami target 70%. Ada beberapa tamu asing dan wisatawan nusantara [mempertanyakan perihal sampah]," paparnya.
Dia berharap penanganan sampah ini bisa segera mendapatkan solusi. PHRI DIY juga telah mengeluarkan imbauan kepada anggota untuk melakukan beberapa hal, di antaranya:
1. Memberikan diskon khusus kepada customer/tamu yang membawa tempat makan sendiri (take away).
2. Melakukan kampanye untuk mengurangi sisa makanan dengan cara gerakan bijak dalam mengambil makanan.
3. Seluruh anggota PHRI DIY dapat melakukan pengelolaan sampah secara mandiri atau bekerjasama dengan pihak lain yang sudah punya pengelolaan sampah, baik perusahaan atau warga sekitar.
"Kami berharap penanganan sampah ini bisa segera ada solusi, tidak usah menunggu bulan September, PHRI sudah mengeluarkan surat untuk anggota dalam penanganan sampah saat ini," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
MBG di SMKN 2 Jogja dihentikan sementara setelah 413 warga sekolah diduga keracunan. Sampel makanan dan air masih diperiksa di laboratorium.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 3 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarifnya Rp8.000.
Indonesia masih berpeluang menambah emas Asian Games 2026 lewat sepak takraw dan padel setelah mengoleksi 35 medali.
KBRI Bangkok mengimbau WNI di Thailand memantau cuaca dan kondisi jalan untuk mengantisipasi banjir hingga 7 Oktober 2026.
Hashim mundur dari WIFI. Pengamat menilai Internet Rakyat dan pemanfaatan spektrum 1,4 GHz tetap berjalan sesuai komitmen perusahaan.
DPRD Kota Jogja mendorong pengembangan UMKM secara merata hingga tingkat kampung melalui promosi, pemasaran, dan dukungan berkelanjutan.