Advertisement
DIY Kembali Mengalami Deflasi, Tarif Listrik Masih Jadi Penyebab Utamanya
Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati. - Harian Jogja/Anisatul Umah
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pada Februari 2025 DIY mengalami deflasi 0,86% secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara secara tahunan (year-on-year/yoy) terjadi deflasi 0,30%, dan secara tahun kalender (year-to-date/ytd) terjadi deflasi sebesar 1,20%.
Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati mengatakan tarif listrik masih menjadi penyebab utama deflasi di Februari 2025. Pada Januari 2025 menurutnya deflasi DIY belum terlalu dalam di 0,35%, sebab yang tercatat baru prabayar. Sementara di Februari prabayar dan pascabayar sudah tercatat sehingga menyebabkan deflasi semakin dalam.
"Yang utama memang tarif listrik," ucapnya ditemui di Kantor BPS DIY, Senin (3/3/2025).
BACA JUGA: Pemda DIY Perkuat Sinergi dengan BI untuk Pengendalian Inflasi
Ia menjelaskan berdasarkan kelompok pengeluaran secara bulanan deflasi terdalam terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 6,49% dan memberikan andil deflasi 1,04%.
Sementara kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 1,40% dengan andil inflasi 0,09%. Serta kelompok transportasi mengalami inflasi 0,34% memberikan andil 0,04%.
Andil komoditas dominan pendorong deflasi Februari 2025 adalah tarif listrik dengan andil 1,05%, bawang merah dan cabai merah masing-masing andil deflasi 0,04%, daging ayam ras dan kacang panjang masing-masing berikan andil deflasi 0,02%.
Sedangkan yang mengalami inflasi di antaranya emas perhiasan dengan andil 0,08%, sigaret kretek mesin dan tangan masing-masing berikan andil inflasi 0,05%, bensin 0,03% dan wortel berikan andil 0,02%.
"Diskon tarif listrik 50% baik prabayar dan pascabayar sudah terdeteksi pada Februari, sedangkan Januari lalu untuk prabayar," jelasnya.
Advertisement
BACA JUGA: Konsistensi Kebijakan Moneter Menjaga Inflasi Januari 2025
Lebih lanjut dia mengatakan secara tahunan pada Februari 2025 mengalami deflasi 0,30%. Ia menyebut baru sekali ini terjadi deflasi secara tahunan dalam beberapa waktu terakhir. "Menurut teman-teman sepanjang kami hitung angka inflasi yoy mengalami deflasi baru ini," tuturnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran deflasi secara yoy ini didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami deflasi 12,21% andil 2,10%. Kemudian kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi 0,28% dengan andil 0,02%.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang berikan andil inflasi pertama adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 10,14% adil 0,60%. Lalu kelompok makanan, minuman, dan tembakau inflasi 2,01% andil 0,57%.
Komoditas dominan pendorong deflasi secara tahunan adalah tarif listrik andil deflasi 2,32%, beras andil deflasi 0,25%, cabai merah andil deflasi 0,14%, tomat dan angkutan udara masing-masing andil deflasi 0,04%.
Pendorong inflasi atau penghambat deflasi di antaranya emas perhiasan andil inflasi 0,45%, kopi bubuk 0,19%, sigaret kretek mesin andil inflasi 0,10%. "Kemudian bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng masing-masing andil inflasi 0,08%," tuturnya.
Sementara itu secara nasional Februari 2025 terjadi deflasi 0,48% mtm atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 105,48 pada Februari 2025. Secara yoy juga terjadi deflasi 0,09%, dan secara tahun kalender mengalami deflasi sebesar 1,24%.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan deflasi sebesar 3,59% dan berikan andil deflasi 0,52%.
"Karena komoditas yang dominan mendorong deflasi kelompok ini adalah diskon tarif listrik yang berikan andil deflasi 0,67%,"ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- KAI Prediksi Puncak Arus Balik Kereta Api Mulai Terjadi Minggu Ini
- Komisaris Tinjau Kesiapan PLN di Masjid Raya Baiturrahman Semarang
- Puncak Arus Mudik, Kementerian ESDM dan PLN Cek Operasional SPKLU
Advertisement
Produksi Sampah di Bantul Naik 8 Persen Selama Libur Lebaran
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Jalur Selat Hormuz Terganggu, Produksi Minyak Kuwait Anjlok Drastis
- MBG Disorot Akademisi UGM, Muncul Usulan Pangkas Jumlah Penerima
- Krisis Energi, Purbaya: APBN Belum Diubah, Masih Aman
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Lonjakan Arus Balik, InJourney Airports Siapkan Ribuan Extra Flight
- Harga Emas Pegadaian Naik Hari Ini 26 Maret, UBS Tembus Rp2,86 Juta
Advertisement
Advertisement




