Advertisement
Konsumsi Naik Saat Ramadan dan Lebaran Daya Beli Masih Tertekan
Foto ilustrasi pedagang sayur di Pasar Tradisional. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Momentum Ramadan dan Lebaran dinilai menjadi periode penting bagi perekonomian Indonesia karena mampu mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Namun, lonjakan aktivitas ekonomi saat Ramadan dan Lebaran juga dibayangi risiko inflasi yang dapat menekan daya beli, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah.
Peneliti Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abdul Manap Pulungan, menjelaskan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) biasanya memicu kenaikan permintaan di berbagai sektor seperti pangan, sandang, transportasi, serta aktivitas mudik.
Advertisement
Meski demikian, ia menilai peningkatan konsumsi saat Ramadan dan Lebaran tidak selalu diikuti kenaikan daya beli secara signifikan karena periode tersebut juga sering diiringi lonjakan inflasi, terutama pada komponen volatile food dan administered prices.
Abdul Manap Pulungan menambahkan kondisi tersebut diperparah oleh sejumlah faktor lain seperti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), kemacetan saat arus mudik, hingga dampak konflik global yang mendorong kenaikan harga energi dan bahan baku.
BACA JUGA
"Dampak ekonomi Ramadan dan Idulfitri tercermin dari pertumbuhan M1 yang meningkat namun pertumbuhannya melambat dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Ia menilai perlambatan pertumbuhan M1 tersebut menjadi indikasi melemahnya daya beli masyarakat. Dalam situasi ini, peningkatan konsumsi lebih banyak terjadi pada kelompok berpendapatan tinggi, sedangkan masyarakat kelas menengah ke bawah justru menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar.
Sementara itu, Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Indef, Afaqa Hudaya, menyampaikan bahwa dinamika harga pangan dan energi juga dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik global yang berdampak terhadap stabilitas harga komoditas.
Berdasarkan data World Bank, ia menjelaskan harga pangan global sebenarnya mulai menunjukkan perbaikan dari sisi pasokan, meskipun masih berada pada level yang relatif tinggi.
Di Indonesia, tekanan inflasi terlihat pada komponen administered prices yang meningkat 12,66% secara tahunan (year-on-year/yoy) serta volatile food yang cenderung naik terutama saat Ramadan. Ia menambahkan pada Februari 2026 volatilitas harga mulai lebih moderat, namun beberapa komoditas seperti beras medium dan gula masih mengalami kenaikan.
Selain itu, harga bawang merah dan cabai juga meningkat karena distribusi komoditas yang masih terpusat di wilayah tertentu sehingga memengaruhi stabilitas harga di pasar domestik.
Dari sisi energi, konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak global, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz. Harga minyak brent bahkan sempat mencapai 90 dolar AS per barel dan diproyeksikan dapat meningkat hingga 114,17 dolar AS per barel pada Mei 2026.
"Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan karena neraca Migas 2016–2025 terus mengalami defisit akibat status sebagai net importer, yang sensitif terhadap kenaikan harga minyak global," ujarnya.
Ia menilai rencana pengalihan impor minyak Indonesia ke Amerika Serikat juga berpotensi memperlebar defisit sekaligus menimbulkan inefisiensi pada proses pengolahan di kilang domestik.
"Adanya konflik antara Amerika dan Iran, ketergantungan impor energi Indonesia diprediksi akan semakin besar dan semakin sensitif terhadap pergerakan harga global," jelasnya.
Di sisi lain, Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM Indef, Nur Komaria, menyebut momentum Lebaran biasanya diikuti mobilitas masyarakat yang tinggi, terutama saat arus mudik. Kondisi ini turut menggerakkan aktivitas ekonomi, termasuk bagi pelaku UMKM melalui meningkatnya tren belanja pakaian Lebaran serta fenomena war takjil di berbagai daerah.
Ia menambahkan pada tahun ini momentum Ramadan dan Lebaran berdekatan dengan perayaan Imlek sehingga diharapkan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat di tengah kondisi defisit APBN.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi digital Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan pesat sepanjang periode 2019–2025. Sektor e-commerce menjadi kontributor utama pertumbuhan tersebut, didukung oleh meningkatnya penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS.
"Namun, masih terdapat tantangan berupa ketimpangan akses internet yang terpusat di Pulau Jawa serta keterbatasan infrastruktur pariwisata dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam," ungkapnya.
Ia menambahkan mahalnya biaya penerbangan domestik akibat keterbatasan armada serta kenaikan harga bahan bakar global turut memengaruhi sektor pariwisata. Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan memilih melakukan perjalanan dengan transit melalui negara lain.
Nur Komaria menilai penguatan infrastruktur digital di luar Pulau Jawa, pengembangan komoditas lokal, serta peningkatan kualitas infrastruktur dan efisiensi transportasi menjadi faktor penting agar peluang ekonomi digital dan sektor pariwisata Indonesia dapat berkembang lebih merata di berbagai daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Mudik Lebaran Jogja Diprediksi Diserbu 8 Juta Lebih Pemudik
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Hindari Konflik, Eksportir DIY Alihkan Jalur Ekspor ke Luar Suez
- Menteri ESDM, Harga BBM Subsidi Tidak Akan Naik hingga Lebaran 2026
- Warga Sleman Siap-siap, Bakal Ada 1.000 Sambungan Jargas Baru
- Mudik Gratis Dinilai Efisien Redam Risiko Kecelakaan Lebaran
- JNE Prediksi Pengiriman Ramadan Naik hingga 30 Persen
- Harga Emas Pegadaian: UBS Rp3,05 Juta dan Galeri24 Rp3,03 Juta
- Harga Minyak Rontok, Bursa Asia Melonjak: Kospi Naik 5 Persen
Advertisement
Advertisement







