Advertisement

Pertamina Antisipasi Gangguan Pasokan Energi dari Selat Hormuz

Newswire
Kamis, 12 Maret 2026 - 15:57 WIB
Maya Herawati
Pertamina Antisipasi Gangguan Pasokan Energi dari Selat Hormuz Nozzle BBM - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—PT Pertamina (Persero) mulai menyiapkan sumber impor energi alternatif untuk menjaga pasokan energi nasional di tengah dinamika distribusi energi global di Selat Hormuz akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan agar ketahanan stok energi Indonesia tetap terjaga meskipun terjadi gangguan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyampaikan perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, termasuk mencari jalur dan sumber impor energi alternatif guna memastikan pasokan energi nasional tetap aman.

Advertisement

“Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus,” kata Simon di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Ia menjelaskan strategi Pertamina tidak hanya bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Perusahaan juga melakukan diversifikasi sumber impor energi dari berbagai wilayah lain seperti Afrika dan Amerika Serikat.

“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” ujarnya.

Situasi geopolitik di Timur Tengah sebelumnya memicu ketegangan yang berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute strategis perdagangan energi dunia yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar energi global.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah menuju berbagai negara konsumen di dunia.

Pemerintah Indonesia sebelumnya mencatat sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak mentah nasional dikirim melalui jalur Selat Hormuz. Kondisi ini membuat stabilitas pelayaran di kawasan tersebut memiliki pengaruh terhadap rantai pasok energi Indonesia.

Upaya mencari sumber impor energi alternatif juga dipertimbangkan Pertamina setelah dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) masih berada di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Dua kapal tersebut adalah very large crude carrier (VLCC) Pertamina Pride dengan ship management dari NYK serta kapal Gamsunoro yang dikelola oleh Synergy Ship Management.

Berdasarkan laporan PIS pada Senin (2/3), kapal Pertamina Pride telah menyelesaikan proses loading dan saat ini berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Sementara itu kapal Gamsunoro masih menjalani proses loading di Khor al Zubair, Irak.

Di sisi lain, dua kapal PIS lainnya yaitu PIS Paragon dan PIS Rinjani dilaporkan berada di luar kawasan perairan Timur Tengah.

"Yang menjadi perhatian kami yang utama adalah keselamatan para kru dan keselamatan kargo kami. Tentunya kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dari Kementerian Luar Negeri, dari semua pihak dan kita juga mendorong supaya situasi di sana semakin baik," tutur Simon.

Saat ini Pertamina International Shipping mengoperasikan sekitar 345 kapal untuk mendukung distribusi energi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 266 kapal digunakan untuk pengangkutan BBM dan avtur, 27 kapal untuk pengangkutan minyak mentah, 45 kapal untuk distribusi LPG, serta 7 kapal lainnya melayani pengangkutan petrokimia dan berfungsi sebagai Floating Storage.

Selain mengantisipasi pasokan energi melalui diversifikasi impor, Pertamina juga mendorong peningkatan produksi energi domestik guna memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kita kan punya kerja sama di Blok Cepu ya, jadi sama-sama harus maksimal. Dengan penambahan fasilitas di sana kita dorong supaya produksinya bisa meningkat,” ucap Simon.

 

Peningkatan produksi dari dalam negeri, termasuk dari proyek energi seperti Blok Cepu, diharapkan dapat memperkuat pasokan energi nasional sehingga ketergantungan terhadap impor energi dapat ditekan di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal Buka Puasa Jogja Kamis 12 Maret 2026, Magrib 17.57 WIB

Jadwal Buka Puasa Jogja Kamis 12 Maret 2026, Magrib 17.57 WIB

Jogja
| Kamis, 12 Maret 2026, 17:17 WIB

Advertisement

Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026

Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026

Wisata
| Kamis, 12 Maret 2026, 00:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement