B50 Resmi Berlaku, Pemerintah Target Seluruh SPBU Jual Mulai Oktober
Bakom RI menyebut program B50 memperkuat ketahanan energi, mengurangi impor BBM, dan ditargetkan seluruh SPBU menjual B50 mulai Oktober 2026.
Logo Muhammadiyah - ist/wikimedia
Harianjogja.com, JAKARTA—Langkah menuju kemandirian sektor kesehatan mulai ditempuh Muhammadiyah dengan menyiapkan pembangunan pabrik cairan infus. Proyek ini digarap melalui entitas bisnis baru, PT Suryavena Farma Indonesia, untuk memastikan pasokan medis tidak lagi bergantung pada pihak luar.
Kebutuhan internal yang besar menjadi pemicu utama. Muhammadiyah saat ini mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik di berbagai wilayah Indonesia, namun belum memiliki industri hulu kesehatan sendiri.
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, mengatakan selama ini suplai alat kesehatan dan obat masih bergantung pada pihak lain, termasuk untuk produk infus.
“Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar,” ujarnya di Jakarta, Senin.
Dalam dua tahun terakhir, produksi infus merek Suryavena masih menggunakan skema maklon dengan pabrik lain. Kondisi ini membuat pasokan belum stabil karena keterbatasan kapasitas produksi pihak ketiga.
“Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar,” katanya.
Target Produksi Besar dan Operasi Segera
Untuk mengatasi kendala tersebut, Muhammadiyah berencana membangun pabrik sendiri di kawasan Karangploso, Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra industri cairan infus nasional.
Lahan seluas sekitar 14 hektare telah disiapkan dan dinyatakan layak, termasuk dari sisi kualitas air yang menjadi faktor penting dalam produksi infus.
“Lahan yang tersedia sekitar 14 hektare dan sudah melalui uji kelayakan, termasuk kualitas air. Hasilnya memenuhi syarat untuk pembangunan pabrik cairan infus,” kata Tatat.
Pembangunan pabrik ditargetkan dimulai dalam waktu dekat dengan proyeksi mulai beroperasi pada akhir 2027 atau awal 2028. Pembiayaan proyek akan berasal dari kombinasi sumber eksternal seperti perbankan dan investor.
Studi kelayakan proyek juga telah dilakukan dengan melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta didukung konsultan keuangan untuk menyusun skema pendanaan.
Jika beroperasi penuh, kapasitas produksi pabrik ditargetkan mencapai 15 juta botol per tahun. Sekitar 13 juta botol akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Muhammadiyah, sementara sisanya berpeluang dipasarkan ke masyarakat umum.
Permintaan terhadap produk infus Suryavena disebut cukup tinggi karena menawarkan harga kompetitif dengan kualitas yang baik, meski saat ini belum bisa dipenuhi secara maksimal akibat keterbatasan produksi.
“Bahkan di luar rumah sakit Muhammadiyah sudah banyak yang berminat, tetapi saat ini masih terbatas karena kapasitas produksi belum optimal,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Bakom RI menyebut program B50 memperkuat ketahanan energi, mengurangi impor BBM, dan ditargetkan seluruh SPBU menjual B50 mulai Oktober 2026.
Fahri Hamzah dan Sri Sultan HB X membahas penataan kota DIY, penyediaan hunian terjangkau, serta pengembangan kawasan permukiman di masa depan.
SDN Pingit menilai Program Makan Bergizi Gratis membantu siswa dari keluarga prasejahtera. Selama hampir setahun berjalan, belum ada kasus keracunan makanan.
Regrouping SD di Gunungkidul berlanjut setelah lima sekolah digabung. Disdik masih mengkaji sekolah lain menyusul banyaknya SD yang kekurangan murid.
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY menemukan dugaan penyalahgunaan jalur mutasi hingga praktik menumpang kartu keluarga (KK) dalam pelaksanaan Si
DKPP Bantul mengandalkan lebih dari 4.000 pompa irigasi dan tambahan 160 unit pompa untuk menjaga pasokan air sawah selama musim kemarau 2026.