Advertisement

Perundingan Iran-AS Buntu, Harga BBM Global Terancam Melonjak

Anisatul Umah
Selasa, 14 April 2026 - 01:17 WIB
Jumali
Perundingan Iran-AS Buntu, Harga BBM Global Terancam Melonjak Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kegagalan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia. Dampaknya bukan hanya global, tetapi juga berpotensi langsung dirasakan masyarakat Indonesia melalui tekanan pada harga BBM dan kebutuhan pokok.

Harga minyak dunia langsung berbalik arah setelah perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai kondisi ini menjadi sinyal kuat kenaikan harga energi global dalam waktu dekat.

Advertisement

Sebelumnya, harga minyak sempat turun di bawah 90 dolar AS per barel selama proses negosiasi berlangsung. Namun kini, harga kembali melonjak menembus 100 dolar AS per barel, menandakan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Menurut Fahmy, risiko terbesar terjadi apabila konflik meluas hingga mengganggu jalur distribusi energi dunia, khususnya di Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak global.

“Kalau sampai terjadi konflik di Selat Hormuz dan kapal tidak bisa melintas, harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Ia menegaskan, lonjakan tersebut akan memicu kelangkaan pasokan BBM dan berbagai produk turunannya di pasar global. Dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga menjalar ke berbagai kebutuhan industri dan rumah tangga.

Di Indonesia, pemerintah saat ini masih menahan kenaikan harga BBM meski harga minyak dunia meningkat. Namun, kebijakan ini berisiko membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena subsidi energi akan membengkak.

“Harga memang ditahan, bahkan disebutkan akan dipertahankan hingga akhir tahun. Tapi saya ragu apakah APBN mampu menahan tekanan itu terus-menerus,” kata Fahmy.

Efek domino juga diprediksi terjadi pada komoditas lain. Produk berbahan dasar minyak seperti plastik akan mengalami kenaikan harga karena bahan baku nafta ikut terdampak. Selain itu, komoditas pangan seperti kedelai juga berpotensi naik akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Dampaknya meluas, tidak hanya energi, tetapi juga komoditas lain yang bergantung pada impor atau turunan minyak,” jelasnya.

Kegagalan perundingan ini dikonfirmasi oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyebut belum tercapai kesepakatan dengan Iran. Ia menegaskan bahwa salah satu perbedaan utama adalah soal komitmen Iran terkait pengembangan senjata nuklir.

“Kami membutuhkan komitmen tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir,” ujar Vance.

Di sisi lain, Iran menilai tuntutan Amerika Serikat terlalu berlebihan sehingga menghambat proses negosiasi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa kesepakatan memang tidak realistis dicapai dalam satu kali pertemuan.

“Sejak awal, tidak ada yang mengharapkan kesepakatan tercapai dalam satu sesi,” katanya.

Dengan situasi geopolitik yang masih memanas, fluktuasi harga minyak diperkirakan akan terus terjadi. Bagi Indonesia, tantangan terbesarnya adalah menjaga stabilitas harga energi tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan—terutama menjelang meningkatnya kebutuhan energi global sepanjang 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

DPRD Bantul Sesuaikan Skema WFH, Tekan Kegiatan Seremonial

DPRD Bantul Sesuaikan Skema WFH, Tekan Kegiatan Seremonial

Bantul
| Selasa, 14 April 2026, 02:37 WIB

Advertisement

Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja

Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja

Wisata
| Senin, 13 April 2026, 16:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement