Advertisement
Seberapa Besar Peran Pemda Dorong Ekspor Nasional?
Nara narasumber dalam seminar nasional, Pengembangan dan Pembiayaan Industri Padat Karya Berorientasi Ekspor yang diselenggarakan Bank Indonesia dan ISEI Jogja di Bangsal Mataram, KPw BI DIY, Senin (7/5). - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam mendorong ekspor nasional karena sektor-sektor industri banyak berkembang di daerah. Upaya mendorong ekspor dan pariwisata ini sangat penting untuk dapat mencapai stabilitas kurs.
Melalui seminar nasional bertajuk Pengembangan dan Pembiayaan Industri Padat Karya Berorientasi Ekspor, yang diselenggarakan Bank Indonesia dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jogja dikemukakan beberapa rekomendasi dari sejumlah pembicara dari praktisi hingga akademisi dalam rangka upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Advertisement
Wakil Ketua Pokja III Satgas Percepatan Reformasi Struktural, Raden Pardede menambahkan inisiatif dan kreatovitas kepala daerah sangat dibutuhkan, apalagi di era disentralisasi saat ini. Untuk mendorong potensi ekspor di daerah, pemda tak lagi bisa bergantung pada Pemerintah Pusat lagi.
Upaya yang dapat dilakukan yakni dengan berinovasi dengan segala kebijakan yang ada. Kemudahan regulasi, kata Raden, harus diperluas agar investor maupun eksportir mau mendatangi daerah ini langsung.
BACA JUGA
"Dalam era ini, daerah sekarang memegang peranan penting sekali untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dulu pada 1980-an, pertumbuhan investasi bisa sampai 10 persen per tahun dan ekspor bisa tumbuh 15 persen per tahun. Peluang investasinya masih sangat besar, terutama yang berorientasi ekspor dalam upaya mendorong perekonomian Indonesia," jelas Raden, Senin (7/5/2018).
Terkait pertumbuhan ekspor DIY, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY, Budi Hanoto mengatakan ekspor DIY mengalami pertumbuhan 9,26% tahun ke tahun. Negara tujuan ekspor utama dari provinsi ini masih didominasi Amerika Serikat, Eropa dan Jepang. Tekstil dan pakaian jadi masih menjadi komoditas utama ekspor DIY.
"Di sisi lain, pertumbuhan impor juga cenderung masih tinggi sebesar 9,19 persen, karena keterbatasan dan kualitas bahan baku lokal yang kurang memenuhi standard industri," jelas Budi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








