Lays dan Cheetos Tak Lagi Dijual di Indonesia, Indofood Sorongkan Chitato dan Qtela
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. akan memperkuat lini bisnis makanan ringan menyusul moratorium merek dagang milik PepsiCo Inc. dan afiliasinya di Indonesia.
Pengunjung menggunakan smartphone di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan saham di BEI, Jakarta, Rabu (20/3/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan
Harianjogja.com, JAKARTA — Pasca investor ramai-ramai meninggalkan pasar saham Indonesia sepanjang bulan ini, adanya kepastian terbentuknya kabinet baru pada Oktober 2019 diharapkan dapat mengembalikan selera investor.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) senilai total Rp7,32 triliun sejak awal bulan ini. Adapun aksi beli bersih (net buy) hanya sekali terjadi, yaitu pada Rabu (11/92019), dengan nilai Rp237,88 miliar.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,14% ke level 6.146 pada akhir perdagangan Rabu (25/9/2019), mengakhiri pelemahan selama empat hari berturut-turut. Secara year-to-date (ytd), indeks melemah 0,78%.
Analis menilai pendorong keluarnya investor asing tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Dari eksternal, ada sentimen dari perang dagang AS—China hingga rencana pemakzulan Presiden AS Donald Trump.
Selain itu, kondisi keamanan politik dalam negeri ikut memperburuk keadaan yang membuat investor asing memilih untuk mengamankan asetnya ke tempat yang berisiko rendah.
Head of ETF Indo Premier Sekuritas Alexander I. Salim menyampaikan aksi mahasiswa yang menolak sejumlah RUU kontroversial di depan Gedung DPR RI pada awal pekan ini, memang mempengaruhi minat investor asing untuk masuk ke Indonesia.
Pada Selasa (24/9), aksi jual bersih mencapai Rp773,17 miliar. Sehari kemudian, hal yang sama terjadi lagi dengan nilai Rp769,23 miliar.
“Di pasar saham, asing mengurangi porsi aset berisikonya. Ada kekhawatiran kalau [aksi] berlanjut seperti di Hong Kong yang setiap hari selama 3 bulan, berarti kan mengganggu investasi dan yang lainnya,” katanya kepada Bisnis, Rabu (25/9/2019).
Direktur PT Sinarmas Sekuritas Kerry Rusli menambahkan ketidakstabilan politik yang terjadi di dalam negeri memang lebih membuat khawatir investor asing ketimbang investor lokal.
“[Investor] Lokal selalu percaya diri. Buat kita, ini pasti akan ada titik temu antara pemerintah dan masyarakat yang bisa disepakati,” tuturnya.
Namun, Kerry mengakui dinamika sosial dan politik domestik ke depannya sulit diprediksi karena bergerak dengan cepat. Yang dikhawatirkan adalah aksi yang dilakukan belakangan ini akan seperti aksi yang terjadi di Hong Kong, yang mana telah mengganggu iklim investasi dan sektor pariwisatanya.
Sementara itu, Senior Manager Research Analyst Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menjelaskan aksi jual yang ramai dilakukan oleh investor asing tersebut juga disebabkan oleh sentimen perang dagang yang dikhawatirkan tak memiliki titik temu lagi pada bulan ini.
“[Net sell karena] Perang dagang. [Selanjutnya kekhawatiran] mengenai kemanan dan stabilitas, ketidakpastian politik dari undang-undang yang kontra produktif,” paparnya.
Tetapi, Robby meyakini penundaan Undang-undang (UU) yang kontraproduktif dan pelantikan kabinet baru pada bulan depan bakal menjadi sentimen positif. Dengan demikian, diharapkan arus modal masuk (foreign capital inflow) dapat kembali ke pasar saham menjelang akhir tahun ini.
“Tentu dapat menjadi sentimen positif yang dapat mengembalikan arus modal masuk nantinya pada kuartal IV/2019,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. akan memperkuat lini bisnis makanan ringan menyusul moratorium merek dagang milik PepsiCo Inc. dan afiliasinya di Indonesia.
Astra Motor Yogyakarta turut mendukung program TUMBUH yang memiliki tema semangat kolaboratif antar generasi muda hingga masyarakat pesisir
Sapi simmental berbobot 1 ton asal Gedangsari, Gunungkidul, dibeli Presiden Prabowo Subianto untuk kurban tahun ini.
Gregoria Mariska Tunjung resmi mundur dari Pelatnas PBSI karena alasan kesehatan, PBSI menghormati keputusan dan fokus pada pemulihan.
Megawati Hangestri resmi bergabung dengan Hillstate Korea Selatan dan dijadwalkan debut di KOVO Cup serta V-League 2026/2027.
PSIM Jogja incar 10 besar Super League 2025/2026, Van Gastel tetap turunkan skuad terbaik di dua laga sisa musim.