WMO: Suhu Bumi Berpotensi Pecahkan Rekor Panas hingga 2030
WMO memprediksi suhu global terus naik hingga 2030. Peluang besar rekor panas baru dan dampak ekstrem perubahan iklim.
Pengrajin menyelesaikan pembuatan alas sepatu di Jakarta, Jumat (17/1). Bisnis/Abdullah Azzam
Harianjogja.com, JAKARTA –Salah satu jalan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19 adalah digitalisasi bisnis dan pemasaran dalam jaringan.
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, selain bisa menjangkau konsumen domestik, pemanfaatan pasar daring bisa mempertemukan pelaku usaha dan pembeli di luar negeri.
Kendati demikian, sejauh ini baru sekitar 13 persen UMKM yang terhubung secara daring. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi mengingat penjualan lewat dagang elektronik dilaporkan Bank Indonesia meningkat 18 persen pada April dibandingkan bulan sebelumnya.
"UKM yang terhubung dengan ekosistem digital baru sekitar 8 juta, padahal selama pandemi banyak usaha yang kesulitan membayar cicilan. Sehingga menjadi penting transformasi digitalisasi UMKM menjadi agenda penting kita bersama," kata Teten, Selasa (30/6/2020)
Selain koneksi pada ekosistem digital yang masih rendah, Teten pun mengemukakan bahwa kinerja UMKM dihadapkan pula dengan target peningkatan kontribusi pada nilai ekspor. Menurut Teten, peningkatan ekspor UMKM dapat dicapai dengan membangun keterkaitan dengan usaha skala besar.
"Kalau di negara lain, kontribusi UMKM bisa tinggi karena ada linkage dengan usaha besar. Dia tidak bergerak sendiri, di Indonesia yang sudah terhubung dengan usaha besar masih di bawah lima persen," ujarnya.
Dia menjelaskan hubungan antara UMKM dan perusahaan skala besar ini dapat dibangun dengan meningkatkan peran UMKM sebagai pemasok bahan baku maupun bahan jadi.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan Muhri menyebutkan hambatan yang kerap dihadapi UMKM kala merambah pasar ekspor adalah soal kapasitas produksi. Dia mengatakan pelaku usaha seringkali kesulitan memenuhi permintaan pembeli karena keterbatasan modal dan sumber daya.
"Contohnya soal kapasitas, ketika menghadapi permintaan besar mereka tidak mampu memenuhi. Padahal jika mampu potensial sekali. Sertifikasi produk untuk masuk ke negara tujuan juga menjadi kendala. Jarang ada jejaring untuk mengurus hal tersebut," ujar Kasan.
Terlepas dari kendala tersebut, Kasan mengemukakan peningkatan ekspor UMKM tetap menjadi salah satu fokus yang diupayakan pemerintah. Hal ini tak lepas dari peluang pasar yang besar dan potensi kontribusi yang besar bagi produk domestik bruto.
Mengutip laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemenkop UKM pada 2018, nilai ekspor nonmigas UMKM mencapai Rp293,84 triliun atau sekitar 14 persen dari total kontribusi UMKM pada PDB sebesar Rp8.573,89 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Basarnas menghentikan monitoring aktif KMP Mutiara Sentosa II setelah empat hari penyisiran. Sebanyak 238 korban dipastikan telah terdata dan dievakuasi.
Veda Ega Pratama finis kesembilan di Moto3 Inggris 2026 setelah start dari posisi ke-15 dan meraih tambahan 7 poin.
Van Gastel menyoroti fisik pemain PSIM Yogyakarta usai uji coba lawan UAD FC sebelum menghadapi tim-tim Super League.
Kebakaran Gunung Bromo meluas hingga 520 hektare. Angin kencang membuat api menjalar ke savana dan membakar vegetasi kering.
Seskab Teddy Indra Wijaya menepis anggapan Sekolah Rakyat tak bermutu. Lebih dari 43.000 anak telah mendapat kesempatan belajar.