Libur Panjang 1 Mei, Okupansi Hotel Jogja Diprediksi Naik
Libur panjang 1 Mei dorong kunjungan wisata Jogja naik hingga 25%. Okupansi hotel diprediksi tembus 80%.
Ilustrasi perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat./JIBI-Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, JOGJA—Mulai bulan ini, pemerintah telah menaikkan harga rumah subsidi. Untuk di DIY, harga rumah bersubsidi naik menjadi kisaran Rp162 juta per unit dari sebelumnya Rp150,5 juta. Lalu apakah pekerja dengan gaji UMR masih bisa beli rumah?
Ketua DPD REI DIY, Ilham Muhammad Nur mengatakan dari sisi kemampuan masyarakat, tentu sudah dihitung oleh pemerintah. Misalnya masyarakat dengan pendapatan setara Upah Miminum Regional (UMR). "Ini tetap bisa, sudah dihitung. Hanya saja mungkin tenornya diperpanjang. Kalau enggak salah, saat ini 15 tahun, [jadi berapa tahun nantinya] itu bank yang bisa menghitung," ucapnya, Rabu (12/7/2023).
Dia menjelaskan, hitung-hitungan kredit adalah 40%-50% dari pendapatan. Jika pendapatan UMR Rp2,1 juta maka sekitar Rp1 juta bisa digunakan untuk mencicil.
BACA JUGA: Tanah di Jogja Terlalu Mahal, REI DIY Berharap Harga Rumah Subsidi Naik Lebih Tinggi Lagi
Itulah sebabnya, meski terjadi kenaikan harga, menurut dia sebenarnya tidak begitu berdampak pada penurunan daya beli secara signifikan, sepanjang skemanya mengikuti yang telah diatur oleh pemerintah.
"Kan ada namanya bantuan subsidi uang muka masih disediakan Kemenkeu [Kementerian Keuangan] saya lupa. Dulu nilainya Rp4 juta. Katakanlah Rp4 juta dengan uang muka Rp5 juta masyarakat cukup mengeluarkan Rp1 juta mendapatkan rumah dengan angsuran kurang lebih Rp1 juta," kata Ilham.
Dia menjelaskan sampai semester I/2023 penjualan rumah subsidi anggota REI DIY adalah sekitar 50-75 unit. Setiap tahun penjualan ditargetkan bisa mencapai 200 unit.
Untuk saat ini, kata dia, penjualan rumah subsidi di DIY paling banyak di Gunungkidul dengan persentase di atas 50%. "Siapa tahu di semester 2 lebih banyak, biasanya lebih banyak hampir tercapai. [kenaikan ini] di sisi produsen ya jadi lebih menggembirakan ya. Saya lihat kenaikan ini mengikuti inflasi selama kurang lebih empat tahun terakumulasi dari Rp150,5 juta menjadi Rp162 juta," ujar dia.
Sebelumnya, Sekretaris DPD REI DIY, Ngatijan Suryo Sutiarso mensyukuri kenaikan harga rumah subsidi tahun ini di kisaran 7%-8% dari harga semula. "Di DIY, pada 2022 lalu harga rumah bersubsidi Rp150,5 juta kini naik jadi Rp162 juta. Sebenarnya kenaikan harga rumah di DIY ini sangat ditunggu-tunggu pengembang rumah subsidi," ucapnya.
Hanya saja, khusus di DIY, kata Ngatijan, memang masih cukup sulit untuk merealisasikan perumahan subsidi. Kendala yang dihadapi adalah tingginya harga tanah.
Dia mengatakan harga tanah yang layak untuk rumah subsidi kurang dari Rp200.000 per meter persegi. "Paling bisa direalisasikan di Kulonprogo, Gunungkidul, dan Bantul Selatan. Selain harga tanah, sekarang juga tingginya harga material dan tenaga yang mendorong harga rumah subsidi perlu dinaikan," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Libur panjang 1 Mei dorong kunjungan wisata Jogja naik hingga 25%. Okupansi hotel diprediksi tembus 80%.
Renovasi Mandala Krida dikaji UGM selama 5 bulan. Tribun timur yang bergoyang jadi sorotan, Pemda DIY diminta hati-hati.
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Jelang peringatan Hari Jadi Ke-110, Kabupaten Sleman dinobatkan sebagai peringkat kedua Kabupaten Paling Maju di Indonesia
Persebaya pesta gol 7-0 atas Semen Padang. Simak jalannya pertandingan, daftar pencetak gol, dan susunan pemain lengkap.
Jelang Iduladha, jasa salon sapi di Boyolali jadi strategi pedagang tingkatkan harga jual. Kisah Darmo bertahan sejak 1980-an.