Harga Beras Meroket Lagi, Ini Penyebabnya
Harga beras kembali melambung pada paruh kedua 2024 setelah sebelumnya sempat menurun. Perum Bulog pun menjelaskan penyebab tingginya harga beras.
Ilustrasi beras di gudang Bulog Talumolo, Kota Gorontalo, Gorontalo./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Perum Bulog membantah penyaluran bantuan sosial (bansos) beras yang masif menjadi biang kerok beras langka di gerai ritel modern.
Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi, mengatakan tidak ada kertekaitan antara bantuan pangan beras dengan distribusi beras program stabilisasi harga dan pasokan pangan (SPHP).
Pasalnya, Bulog telah mengalokasikan volume beras secara terpisah untuk kedua program populis tersebut. "Jadi tidak ada alasan bantuan pangan bikin stok atau penyaluran SPHP jadi sulit," kata Bayu di Kantor Perum Bulog, Selasa (13/2/2024).
Bayu menjelaskan, program bantuan beras maupun penyaluran SPHP sama-sama menggunakan beras impor yang didatangkan oleh Bulog. Adapun pemerintah telah menetapkan kuota impor beras tahun ini sebanyak 2 juta ton.
Sementara itu, pada 2023 kuota impor mencapai 3,5 juta ton dengan realisasi sebanyak 3 juta ton. Adapun, 500.000 ton masuk dalam pengadaan di 2024.
Bayu menyebut saat ini sekitar 1 juta ton beras impor berhasil terkontrak dan ditargetkan tiba di Indonesia sebelum panen raya terjadi pada akhir Maret 2024.
Pemerintah mengalokasikan sekitar 220.000 ton beras impor untuk bantuan pangan beras yang dibagikan kepada 22 juta Kelurga Penerima Manfaat (KPM) setiap bulannya.
Sementara SPHP dialokasikan sekitar 100.000 ton per bulan. Namun, teranyar aturan SPHP telah diubah untuk penyaluran sampai Maret 2024. Perusahaan pangan pelat merah itu bakal melipatgandakan hingga 2,5 kali beras SPHP dari alokasi bulanan.
BACA JUGA: Harga Beras Belum Stabil, Catat Tanggal Pasar Murah Disperindag DIY
Bayu pun menyebut para peritel baik di pasar modern maupun tradisional dapat membeli beras SPHP tanpa dibatasi kuota. Beras SPHP adalah beras yang berasal dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang disalurkan ke masyarakat lewat skema subsidi dengan harga penjualan sesuai HET yang ditetapkan yakni Rp10.900 per kilogram.
Menurutnya, dalam penyaluran beras bersubsidi dibutuhkan ketelitian karena ada konsekuensi untuk diaudit. Bayu pun menjabarkan, per Februari 2024 volume beras SPHP yang disalurkan ke pasaran telah mencapai 226.000 ton. Secara spesifik untuk wilayah Jakarta dan Banten mencapai 78.000 ton.
"Ke depan ya, untuk SPHP sangat memfleksibelkan bagi yang pengen SPHP. Kalau dalam 1 minggu sudah habis boleh ambil lagi. Sampai Maret enggak kita batasi, boleh ambil berapa saja," jelas Bayu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Harga beras kembali melambung pada paruh kedua 2024 setelah sebelumnya sempat menurun. Perum Bulog pun menjelaskan penyebab tingginya harga beras.
Katedral Jakarta gelar 4 misa Kenaikan Yesus 2026, 2.300 umat hadir. Polisi amankan 860 gereja selama libur panjang.
Xi Jinping dan Donald Trump sepakat bangun hubungan baru China-AS, tapi isu Taiwan jadi ancaman serius konflik global.
Leo/Daniel melaju ke perempat final Thailand Open 2026 usai kalahkan wakil China. Siap hadapi tuan rumah dengan permainan agresif.
Gunungkidul ajukan pembangunan 9 jembatan senilai Rp27 miliar. Gantikan crossway rawan banjir demi kelancaran akses warga.
Disbud Bantul angkat sejarah Tan Djin Sing dan Madukismo. Generasi muda diajak memahami jejak Tionghoa di Jogja.