Urus Paspor Kini Bisa di Gunungkidul, Tak Perlu ke Kota Jogja
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
Ilustrasi beras./Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengklaim kenaikan harga beras terjadi dikarenakan dampak dari produksi yang menurun akibat kemarau panjang. Hal ini ia sampaikan saat membuka pasar murah di Lapangan Sanggrahan di Kalurahan Tirtoadi, Mlati, Rabu (21/2/2024).
“Sudah dihitung dan ada penurunan produksi beras sekitar di 2023 sebesar 1,56 persen atau sebanyak 3.890 ton,” kata Kustini, Rabu siang.
Menurut dia, penurunan ini berdampak pada naiknya harga jual beras di pasaran. Hal tersebut terjadi karena stok berkurang, sedangkan permintaan tidak berubah dan malah cenderung meningkat.
Adapun harga beras di saat ini di kisaran Rp15.000 sampai Rp16.500 per kilogram. “Adanya kenaikan harga ini, maka dilakukan operasi melalui pasar murah dengan tujuan upaya menyetabilkan harga jual di Masyarakat,” katanya.
Kustini berharap masyarakat tidak perlu panik adanya kenaikan harga ini. Pasalnya, pemkab berkomitmen untuk menjaga agar stabilitas harga bisa dilakukan dengan menggelar pasar murah.
“Sekarang pasar murah digelar di empat zona yakni sisi barat, timur, Selatan dan utara. Setelah ini nanti saat akan Lebaran juga akan digelar operasi yang sama,” katanya.
Kustini menambahkan, berdasarkan laporan dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas beras. Pasalnya, juga ada kebutuhan pokok lain yang ikut naik.
Sebagai contoh untuk telur dikisaran Rp27.000-28.000 per kilogram dan gula pasir mencapai Rp17.000 per kilonya. “Untuk operasi pasar yang digelar tidak hanya beras, tapi juga ada komoditas lain seperti minyak, telur dan gula pasir,” katanya.
BACA JUGA: Pemkot Jogja Gelontorkan 34 Ton Beras Lewat Pasar Murah
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono tidak menampik adanya penurunan produktivitas di bidang pertanian di 2023. Hal ini tak lepas adanya kemarau Panjang sehingga lahan milik petani tidak bisa ditanami dikarenakan kekurangan air. “Ada itung-itungannya. Yang jelas, akibat dari kemarau panjang di 2023 berdampak terhadap produktivitas,” katanya.
Suparmono menambahkan, dampak lain dari kemarau panjang juga terlihat dari mundurnya masa tanam. Praktis dengan mundurnya masa tanam, maka panen raya pun juga akan ikut mundur. “Mundur dua atau tiga bulan. Biasanya Februari sudah masuk panen raya, tapi tahun ini belum karena kemungkinan baru terjadi pada April dan Mei,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.
Polres Bantul perketat patroli malam untuk tekan klitih dan kejahatan jalanan. Orang tua diminta awasi anak sebelum jam 22.00 WIB.