Harga Beras Makin Meroket di Sleman, Bupati Klaim Ini Biangnya

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 21 Februari 2024 15:57 WIB
Harga Beras Makin Meroket di Sleman, Bupati Klaim Ini Biangnya

Ilustrasi beras./Antara

Harianjogja.com, SLEMAN—Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengklaim kenaikan harga beras terjadi dikarenakan dampak dari produksi yang menurun akibat kemarau panjang. Hal ini ia sampaikan saat membuka pasar murah di Lapangan Sanggrahan di Kalurahan Tirtoadi, Mlati, Rabu (21/2/2024).

“Sudah dihitung dan ada penurunan produksi beras sekitar di 2023 sebesar 1,56 persen atau sebanyak 3.890 ton,” kata Kustini, Rabu siang.

Menurut dia, penurunan ini berdampak pada naiknya harga jual beras di pasaran. Hal tersebut terjadi karena stok berkurang, sedangkan permintaan tidak berubah dan malah cenderung meningkat.

Adapun harga beras di saat ini di kisaran Rp15.000 sampai Rp16.500 per kilogram. “Adanya kenaikan harga ini, maka dilakukan operasi melalui pasar murah dengan tujuan upaya menyetabilkan harga jual di Masyarakat,” katanya.

Kustini berharap masyarakat tidak perlu panik adanya kenaikan harga ini. Pasalnya, pemkab berkomitmen untuk menjaga agar stabilitas harga bisa dilakukan dengan menggelar pasar murah.

“Sekarang pasar murah digelar di empat zona yakni sisi barat, timur, Selatan dan utara. Setelah ini nanti saat akan Lebaran juga akan digelar operasi yang sama,” katanya.

Kustini menambahkan, berdasarkan laporan dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas beras. Pasalnya, juga ada kebutuhan pokok lain yang ikut naik.

Sebagai contoh untuk telur dikisaran Rp27.000-28.000 per kilogram dan gula pasir mencapai Rp17.000 per kilonya. “Untuk operasi pasar yang digelar tidak hanya beras, tapi juga ada komoditas lain seperti minyak, telur dan gula pasir,” katanya.

BACA JUGA: Pemkot Jogja Gelontorkan 34 Ton Beras Lewat Pasar Murah

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono tidak menampik adanya penurunan produktivitas di bidang pertanian di 2023. Hal ini tak lepas adanya kemarau Panjang sehingga lahan milik petani tidak bisa ditanami dikarenakan kekurangan air. “Ada itung-itungannya. Yang jelas, akibat dari kemarau panjang di 2023 berdampak terhadap produktivitas,” katanya.

Suparmono menambahkan, dampak lain dari kemarau panjang juga terlihat dari mundurnya masa tanam. Praktis dengan mundurnya masa tanam, maka panen raya pun juga akan ikut mundur. “Mundur dua atau tiga bulan. Biasanya Februari sudah masuk panen raya, tapi tahun ini belum karena kemungkinan baru terjadi pada April dan Mei,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online