Luhut Harap China Dukung Produksi Baterai Kendaraan Listrik di Maluku Utara

Dany Saputra
Dany Saputra Sabtu, 15 Juni 2024 16:47 WIB
Luhut Harap China Dukung Produksi Baterai Kendaraan Listrik di Maluku Utara

Luhut Binsar - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan berharap kepada National Development and Reform Commission (NDRC) China untuk mendukung proyek pengembangan baterai di kawasan industri Buli, Maluku Utara (Malut).

Proyek pengembangan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) itu merupakan kerja sama antara PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co, Ltd. (CBL) dengan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Luhut menyampaikan harapannya itu saat bertemu dengan Chairman NDRC Zheng Shanjie di Beijing, China, Rabu (12/6/2024).

"Saya harap NDRC dapat mendukung kerja sama antara CBL (joint venture CATL, Brunp, dan Lygend) dan IBC (Indonesia Battery Corporation) untuk produksi proyek battery materials dan proyek battery recycling di kawasan industri Buli, Maluku Utara,” ujar Luhut dikutip dari siaran pers, Sabtu (15/6/2024).

Untuk diketahui, CBL, atau Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co., Ltd., didirikan pada Oktober 2020. Perusahaan itu merupakan kolaborasi antara Ningbo Brunp Contemporary Amperex Co., Ltd., Ningbo Lygend New Energy Co., Ltd., dan Ningbo Meishan Free Trade Port Ruiting Investment Co., Ltd. Proyek ini berfokus pada pengembangan industri baterai kendaraan listrik dengan investasi sebesar US$5,9 miliar.

BACA JUGA: Bulan Depan, Pabrik Baterai Listrik Mulai Produksi di Indonesia

Berdasarkan perhitungan Bisnis, nilai investasi proyek CBL itu setara dengan Rp96,6 triliun berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kurs jisdor BI 14 Juni 2024.

Investasi tersebut mencakup pengembangan teknologi baterai, integrasi sumber daya dari tambang nikel hingga produksi dan daur ulang baterai.

Adapun pemegang saham utama CBL adalah Contemporary Amperex Technology Co. (CATL). Perusahaan asal China itu memiliki produksi teknologi baterai dengan kapasitas produksi 170,39 GWh pada akhir 2021.

Sementara itu, proyek CBL di kawasan industri Buli mencakup luas 2.000 hektar dan akan menjadi pusat produksi serta layanan sumber daya baterai kendaraan listrik. Proyek itu mencakup bijih nikel laterit, produk turunan nikel, bahan baku baterai energi baru, serta daur ulang baterai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online