Sultan HB X Soroti Komunikasi Keluarga Jelang Harganas 2026
Harganas 2026 akan digelar di Yogyakarta dengan tema “Ayah Wajib Hadir”, menyoroti pentingnya peran ayah dalam keluarga.
Foto ilustrasi bahan bakar energi nabati atau biofuel. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mendorong PT Pertamina (Persero) memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan Bahan Bakar Minyak (BBM) Bobibos. Sejak diluncurkan pada awal November 2025, inovasi BBM berbahan baku jerami itu ramai diperbincangkan publik.
Fahmy menjelaskan Bobibos—singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos—diklaim mampu menghasilkan BBM dengan nilai oktan RON 98, setara Pertamax Turbo. Inovasi anak muda ini dinilai sebagai terobosan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang berpotensi menjadi alternatif BBM berkualitas tinggi, murah, dan ramah lingkungan.
“Namun Bobibos masih harus diuji kelayakan, baik melalui uji laboratorium maupun uji lapangan,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).
Ia memaparkan uji laboratorium dapat dilakukan Lemigas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mencakup pengujian RON, sulfur, hingga emisi. Sementara uji lapangan dapat dilakukan Gaikindo dengan menguji penggunaan Bobibos pada berbagai jenis kendaraan hingga 50.000 km, sesuai standar internasional.
“Setelah lolos kedua uji tersebut, barulah Kementerian ESDM dapat mengeluarkan sertifikat layak untuk produksi dan pemasaran massal,” jelasnya.
Fahmy menilai proses produksi massal membutuhkan investasi besar dan jaringan distribusi luas di seluruh Indonesia, tantangan yang sulit dipenuhi pengembang Bobibos tanpa dukungan perusahaan besar.
Karena itu ia mendorong Pertamina terlibat, terutama dalam investasi dan penggunaan jaringan distribusi yang sudah dimiliki, mulai dari fasilitas penyimpanan hingga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“Tanpa dukungan Pertamina akan sangat sulit bagi Bobibos diproduksi dan dipasarkan secara massal. Jangan sampai bernasib sama seperti blue energi pada era pemerintahan SBY, yang layu sebelum berkembang,” katanya.
Sementara itu, melansir JIBI/Bisnis.com, Kementerian ESDM menyebut seluruh BBM baru wajib melalui uji kelayakan laboratorium sebelum dipasarkan. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan pengujian mencakup uji oksidasi, uji mesin, dan serangkaian evaluasi yang membutuhkan waktu sekitar delapan bulan.
“Kalau BBM tersebut akan dimanfaatkan untuk bahan bakar resmi kendaraan, tentu harus melalui tahapan uji dulu,” ujarnya.
Laode mengonfirmasi Bobibos telah mengajukan uji laboratorium ke pemerintah. Namun hasilnya masih bersifat tertutup dan belum dapat diumumkan.
“Saya luruskan, ini belum disertifikasi. Baru sebatas laporan hasil uji,” tegasnya.
Ia menambahkan badan usaha atau produsen bahan bakar dapat bekerja sama dengan Lemigas sebelum mendapatkan sertifikat niaga untuk distribusi. Prosedur yang sama berlaku bagi semua inovasi BBM baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harganas 2026 akan digelar di Yogyakarta dengan tema “Ayah Wajib Hadir”, menyoroti pentingnya peran ayah dalam keluarga.
Simak lima fakta menarik Tanjung Verde, debutan Piala Dunia 2026 yang sukses lolos ke babak 32 besar dan akan menghadapi Argentina.
BPKH membuka rekrutmen pegawai 2026 untuk delapan posisi Asisten Manajer. Simak syarat, daftar formasi, dan jadwal penutupan pendaftaran.
Gelombang panas Inggris memecahkan rekor suhu Juni selama tiga hari berturut-turut. Met Office memperpanjang peringatan cuaca hingga Minggu.
Iran mengecam serangan Amerika Serikat dan menyebutnya melanggar Piagam PBB serta kesepakatan damai yang baru berlaku pada Juni 2026.
Candi Sojiwan dan Wellness Tourism Umbul Brintik masuk nominasi API Award 2026. Masyarakat diajak memberikan dukungan melalui voting.