Prabowo Targetkan 1.386 Kampung Nelayan Beroperasi Akhir 2026
Prabowo menargetkan 1.386 Kampung Nelayan Merah Putih beroperasi akhir 2026 dan pembangunan 1.582 kapal ikan modern dimulai pada 2027.
Pedagang cabai rawit merah. - Foto ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Kenaikan harga cabai rawit merah di sejumlah pasar nasional dipicu faktor cuaca ekstrem dan keterbatasan tenaga petik di sentra produksi, bukan karena kekurangan stok. Hal ini ditegaskan Badan Pangan Nasional (Bapanas) seusai melakukan inspeksi harga dan pasokan pangan di Pasar Minggu, Senin (16/2/2026).
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan secara nasional produksi cabai rawit masih mencukupi, tetapi proses pemanenan terganggu akibat intensitas hujan yang tinggi sehingga pasokan ke pasar menjadi terhambat.
“Produksi sebenarnya sangat cukup, tetapi masalahnya di petik. Saat hujan tinggi, tenaga kerja tidak berani memetik karena cabai akan cepat busuk,” kata Ketut seusai melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga dan pasokan pangan di Pasar Minggu, Jakarta, Senin.
Selain faktor cuaca, keterbatasan tenaga kerja pemetik juga dipengaruhi periode libur nasional yang membuat distribusi ke pasar induk mengalami penurunan meskipun stok di tingkat produksi masih tersedia. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan cabai rawit ke pasar tidak optimal sehingga harga di tingkat konsumen meningkat.
Bapanas menegaskan kenaikan harga cabai rawit merah tidak berkaitan dengan praktik penimbunan maupun permainan harga oleh pelaku usaha.
“Sesuai arahan Kepala Bapanas, tidak boleh ada penimbunan dan tidak boleh ada kenaikan harga yang tidak wajar," tegas Ketut.
Ia menambahkan pengawasan akan terus dilakukan bersama Satgas Pangan Polri untuk memastikan distribusi pangan berjalan sesuai ketentuan dan tidak terjadi penyimpangan di lapangan.
Perbaikan kondisi cuaca serta kembalinya aktivitas pemetikan diharapkan dapat meningkatkan pasokan cabai rawit dalam dua pekan ke depan sehingga harga berpotensi turun secara bertahap di pasar nasional.
Sementara itu, hasil pemantauan Bapanas di Pasar Induk Kramat Jati menunjukkan harga cabai rawit merah berada di kisaran Rp80.000 per kilogram (kg), lebih rendah dibandingkan sepekan sebelumnya yang sempat mencapai Rp90.000 hingga Rp100.000 per kg.
Harga tersebut tidak jauh berbeda dengan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PHIPS) Nasional pada Senin yang mencatat rata-rata harga cabai rawit merah sebesar Rp79.950 per kg di pasar tradisional seluruh provinsi.
Ketut menyatakan pihaknya akan terus memantau dinamika produksi dan distribusi cabai rawit agar gejolak harga dapat dikendalikan secepatnya, terutama menjelang hari besar keagamaan nasional seperti Imlek dan Ramadan yang biasanya meningkatkan permintaan komoditas pangan.
"Kami akan terus cek dan upayakan untuk melakukan beberapa hal untuk menjadi solusinya," tuturnya.
Langkah pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan stabilitas harga cabai rawit tetap terjaga di pasar sekaligus menjaga daya beli masyarakat, seiring upaya pemerintah mengantisipasi potensi lonjakan permintaan pada periode hari besar keagamaan mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Prabowo menargetkan 1.386 Kampung Nelayan Merah Putih beroperasi akhir 2026 dan pembangunan 1.582 kapal ikan modern dimulai pada 2027.
Instagram resmi mengganti logo teks atau wordmark setelah 10 tahun. Desain baru menuai pro dan kontra karena banyak pengguna salah membaca tulisan Instagram men
Ledakan industri drama AI di China melahirkan bisnis baru berupa lisensi wajah manusia. Warga mendapat bayaran hingga Rp12 juta, namun risiko penyalahgunaan dat
AFC resmi menolak banding Persib Bandung terkait kericuhan suporter saat ACL 2. Maung Bandung tetap didenda Rp3,5 miliar dan menjalani laga tanpa penonton.
Borneo FC resmi ditunjuk AFC sebagai tuan rumah fase grup AFC Challenge League 2026/2027. Stadion Segiri Samarinda akan menjadi venue pertandingan Asia.
Lonjakan operasi plastik di kalangan anak muda Jepang memicu kekhawatiran. Bahkan anak lulusan SD mulai menjalani operasi kelopak mata dengan persetujuan orang