Hujan Meteor Perseid Capai Puncak 12-13 Agustus, Simak Cara Melihatnya
Hujan meteor Perseid mencapai puncak pada 12-13 Agustus 2026. Simak waktu terbaik dan peluang pengamatan fenomena langit ini dari Indonesia.
Pekerja Kongo Gumi pada awal abad ke-20.(WIKIMEDIA COMMONS/KONGO GUMI)
Harianjogja.com, JOGJA — Di tengah banyaknya bisnis yang tumbang dalam hitungan tahun, kisah Kongo Gumi justru menjadi bukti bahwa perusahaan bisa bertahan lebih dari 1.400 tahun jika memiliki fondasi kuat.
Perusahaan konstruksi asal Osaka ini telah berdiri sejak tahun 578 M, bahkan jauh sebelum perkembangan besar peradaban dunia modern, dan tetap eksis hingga saat ini.
Jika ditarik ke konteks sejarah global, berdirinya Kongo Gumi terjadi pada masa awal kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah melewati berbagai era, mulai dari Jepang kuno hingga zaman modern.
Awal Mula dari Proyek Kuil
Kongo Gumi didirikan oleh keluarga perajin kayu asal Korea yang diundang oleh Pangeran Shotoku Taishi untuk membangun kuil Buddha Shitenno-ji. Proyek ini menjadi fondasi awal perjalanan panjang perusahaan tersebut.
Setelah itu, mereka dikenal sebagai spesialis pembangunan bangunan religius dengan berbagai karya besar, seperti kuil Horyu-ji (607 M), kawasan Koyasan (816 M), hingga Istana Osaka (1583 M).
Keunggulan utama mereka terletak pada teknik konstruksi kayu tradisional Jepang yang mampu menyambung material tanpa paku, sebuah keahlian yang diwariskan lintas generasi.
Strategi Bertahan Lintas Zaman
Salah satu kunci keberhasilan Kongo Gumi adalah kemampuannya menjaga reputasi dan nilai spiritual dalam setiap proyek. Konstruksi kuil yang sarat makna budaya membuat permintaan terhadap jasa mereka tetap stabil sepanjang sejarah.
Selain itu, sistem manajemen berbasis keluarga dengan orientasi jangka panjang menjadi faktor penting. Menariknya, pemimpin perusahaan tidak selalu ditentukan oleh garis keturunan, melainkan kompetensi.
Contohnya terjadi pada 1934, ketika Yoshie—janda pemimpin ke-37—menjadi perempuan pertama yang memimpin perusahaan. Ia membawa perubahan signifikan dengan melakukan reformasi manajemen dan diversifikasi usaha, termasuk memproduksi peti mati kayu untuk bertahan di masa sulit.
Ujian Berat di Era Modern
Memasuki era modern, Kongo Gumi juga menghadapi tantangan besar. Pada 1990-an, perusahaan mengalami krisis akibat investasi properti yang gagal saat gelembung ekonomi Jepang pecah.
Kondisi tersebut berujung pada likuidasi pada 2006, sebelum akhirnya diakuisisi oleh Takamatsu Construction Group.
Meski kini berstatus sebagai anak perusahaan, Kongo Gumi tetap mempertahankan identitasnya dengan melanjutkan tradisi pengerjaan kayu dan mempekerjakan sekitar 100 miyadaiku atau tukang kayu tradisional.
Keberlangsungan perusahaan ini selama lebih dari 14 abad menjadi bukti bahwa keseimbangan antara tradisi dan inovasi dapat membuat sebuah bisnis bertahan melampaui zaman, sekaligus menjadi inspirasi bagi pelaku usaha modern.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan meteor Perseid mencapai puncak pada 12-13 Agustus 2026. Simak waktu terbaik dan peluang pengamatan fenomena langit ini dari Indonesia.
Polisi menjerat S dengan pasal berlapis KUHP baru atas perusakan bendera dan palang kereta di Bantul-Sleman, ancaman maksimal 7 tahun penjara.
Kejagung memeriksa 12 dari 22 saksi dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG periode 2025–2026. Tujuh orang telah menjadi tersangka.
Kemenkeu mencairkan Rp20,5 triliun kepada 490 Pemda untuk membantu kebutuhan gaji PPPK dan belanja daerah.
Asupan zat besi anak Indonesia baru 65,8 persen dari AKG. Dokter RSCM mengingatkan dampaknya terhadap kognitif dan tumbuh kembang.
Marvin Loria mengaku cepat beradaptasi di PSIM Jogja. Cuaca, suasana, dan sambutan pemain membuat winger Kosta Rika itu nyaman.