Klasemen Asian Games 2026: Indonesia Koleksi 22 Medali
Klasemen Asian Games 2026 Jumat 25 September pukul 11.00 WIB. Indonesia mengoleksi 22 medali setelah tambahan dua perunggu dari sepak takraw dan sepeda gunung.
Pekerja Kongo Gumi pada awal abad ke-20.(WIKIMEDIA COMMONS/KONGO GUMI)
Harianjogja.com, JOGJA — Di tengah banyaknya bisnis yang tumbang dalam hitungan tahun, kisah Kongo Gumi justru menjadi bukti bahwa perusahaan bisa bertahan lebih dari 1.400 tahun jika memiliki fondasi kuat.
Perusahaan konstruksi asal Osaka ini telah berdiri sejak tahun 578 M, bahkan jauh sebelum perkembangan besar peradaban dunia modern, dan tetap eksis hingga saat ini.
Jika ditarik ke konteks sejarah global, berdirinya Kongo Gumi terjadi pada masa awal kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah melewati berbagai era, mulai dari Jepang kuno hingga zaman modern.
Awal Mula dari Proyek Kuil
Kongo Gumi didirikan oleh keluarga perajin kayu asal Korea yang diundang oleh Pangeran Shotoku Taishi untuk membangun kuil Buddha Shitenno-ji. Proyek ini menjadi fondasi awal perjalanan panjang perusahaan tersebut.
Setelah itu, mereka dikenal sebagai spesialis pembangunan bangunan religius dengan berbagai karya besar, seperti kuil Horyu-ji (607 M), kawasan Koyasan (816 M), hingga Istana Osaka (1583 M).
Keunggulan utama mereka terletak pada teknik konstruksi kayu tradisional Jepang yang mampu menyambung material tanpa paku, sebuah keahlian yang diwariskan lintas generasi.
Strategi Bertahan Lintas Zaman
Salah satu kunci keberhasilan Kongo Gumi adalah kemampuannya menjaga reputasi dan nilai spiritual dalam setiap proyek. Konstruksi kuil yang sarat makna budaya membuat permintaan terhadap jasa mereka tetap stabil sepanjang sejarah.
Selain itu, sistem manajemen berbasis keluarga dengan orientasi jangka panjang menjadi faktor penting. Menariknya, pemimpin perusahaan tidak selalu ditentukan oleh garis keturunan, melainkan kompetensi.
Contohnya terjadi pada 1934, ketika Yoshie—janda pemimpin ke-37—menjadi perempuan pertama yang memimpin perusahaan. Ia membawa perubahan signifikan dengan melakukan reformasi manajemen dan diversifikasi usaha, termasuk memproduksi peti mati kayu untuk bertahan di masa sulit.
Ujian Berat di Era Modern
Memasuki era modern, Kongo Gumi juga menghadapi tantangan besar. Pada 1990-an, perusahaan mengalami krisis akibat investasi properti yang gagal saat gelembung ekonomi Jepang pecah.
Kondisi tersebut berujung pada likuidasi pada 2006, sebelum akhirnya diakuisisi oleh Takamatsu Construction Group.
Meski kini berstatus sebagai anak perusahaan, Kongo Gumi tetap mempertahankan identitasnya dengan melanjutkan tradisi pengerjaan kayu dan mempekerjakan sekitar 100 miyadaiku atau tukang kayu tradisional.
Keberlangsungan perusahaan ini selama lebih dari 14 abad menjadi bukti bahwa keseimbangan antara tradisi dan inovasi dapat membuat sebuah bisnis bertahan melampaui zaman, sekaligus menjadi inspirasi bagi pelaku usaha modern.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Klasemen Asian Games 2026 Jumat 25 September pukul 11.00 WIB. Indonesia mengoleksi 22 medali setelah tambahan dua perunggu dari sepak takraw dan sepeda gunung.
Delegasi Indonesia walkout saat Netanyahu berpidato di PBB. Kemlu menyebut aksi itu sebagai solidaritas untuk Palestina dan protes diplomatik.
Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman mengingatkan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu memilah informasi dan terhindar dari hoaks.
DPAD DIY dan DPRD DIY menggelar bedah buku Perubahan Kecil Dampaknya Besar untuk mendorong budaya membaca dan perubahan positif di masyarakat.
Guruh Soekarnoputra wafat pada usia 73 tahun. Ruth Sahanaya, Memes, Anne Avantie hingga Rizman Gumilang mengenang sang maestro.
Gagal bayar pinjol memiliki sejumlah risiko, mulai dari penagihan, denda, riwayat kredit hingga persoalan wanprestasi. Ini langkah menghadapinya.