Polda DIY Bangun Sumur Bor dan Salurkan Air Bersih di Gunungkidul
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Foto ilustrasi kemasan plastik, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA— Lonjakan harga plastik hingga 100% mulai dirasakan pelaku usaha di DIY dan menekan operasional, baik sektor ritel maupun UMKM. Kenaikan biaya ini memaksa pelaku usaha menghadapi dilema antara menaikkan harga atau menanggung beban produksi yang terus membengkak.
Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Aditya Suryadinata, mengungkapkan kondisi ekonomi saat ini membuat pelaku ritel tidak leluasa menaikkan harga jual, meskipun biaya bahan baku terus meningkat.
Ia menyebut plastik menjadi salah satu komponen yang mengalami kenaikan signifikan, bersamaan dengan bahan baku lain. Kondisi ini pada akhirnya memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian harga secara bertahap.
"Jadi tidak dipungkiri jikalau kenaikan harga bahan baku semuanya naik, terpaksa harga jual juga mulai kami naikkan," ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Di tengah tekanan tersebut, pelaku ritel mulai mendorong perubahan perilaku konsumen dengan mengajak penggunaan tas pakai ulang. Langkah ini dinilai dapat menekan penggunaan plastik sekali pakai sekaligus mendukung gerakan ramah lingkungan.
Menurut Aditya, sejumlah anggota Aprindo DIY bahkan telah menyediakan alternatif reusable bag di berbagai outlet untuk memudahkan pelanggan beralih ke kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
"Anggota kami sudah mulai dari dulu untuk memberikan alternatif reusable bag yang dapat dibeli oleh customer-customer kami di beberapa outlet anggota Aprindo DIY," jelasnya.
Sebelumnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY juga menyoroti dampak kenaikan harga plastik terhadap pelaku UMKM, terutama di sektor makanan dan minuman.
Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mengatakan lonjakan harga kemasan membuat struktur biaya produksi meningkat, sehingga margin keuntungan pelaku usaha semakin tergerus.
Ia menambahkan, banyak pelaku UMKM memilih tidak menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Akibatnya, beban biaya ditanggung sendiri hingga berisiko mengganggu keberlanjutan usaha.
Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penyesuaian, potensi terburuk adalah penutupan usaha. Selain itu, pelaku usaha juga bisa mengambil langkah efisiensi seperti mengurangi jam kerja atau tenaga kerja.
"Di DIY, inflasi bulanan masih banyak ditopang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan harga kemasan berpotensi memperkuat tekanan ini jika pelaku FnB terpaksa menyesuaikan harga jual ke konsumen," ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi memicu tekanan inflasi serta perubahan pola konsumsi masyarakat di daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Gerindra menyerahkan kasus Bupati Kuansing Suhardiman Amby kepada KPK dan menegaskan menghormati seluruh proses hukum.
TikTok menjelaskan PHK Tokopedia dilakukan demi efisiensi jangka panjang setelah integrasi bisnis dan restrukturisasi organisasi.
Lonjakan penumpang Commuter Line Jogja–Palur hingga 30% saat libur sekolah membuat KAI Commuter siagakan 34 perjalanan kereta per hari.
Peneliti menemukan enam celah keamanan pada AirDrop dan Quick Share yang berpotensi menyerang iPhone, Android, macOS, dan Windows.
Roy Suryo menghadiri sidang perdana Dokter Tifa di PN Jakarta Timur. Perkara Roy masih menunggu proses praperadilan di PN Jakarta Selatan.