Libur Tahun Baru Islam Penumpang KA di Daop 6 Jogja Melonjak 54 Persen
Penumpang kereta api di Daop 6 Yogyakarta melonjak 54 persen menjelang libur Tahun Baru Islam. KAI menambah tiga perjalanan kereta untuk mengakomodasi lonjakan.
Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Shadati
Harianjogja.com, JOGJA — Konflik geopolitik global yang melibatkan Iran mulai menekan kinerja ekspor Indonesia. Ketidakpastian global ini memicu kenaikan harga energi, mengganggu rantai pasok, serta melemahkan permintaan internasional.
Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, menjelaskan dampak tersebut terjadi melalui tiga jalur utama, yakni energy price shock, trade disruption, dan global demand contraction.
“Ketiganya saling memengaruhi. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi global, gangguan perdagangan memperlambat logistik, dan kontraksi permintaan membuat ekspor manufaktur semakin melemah,” ujarnya.
Tekanan dari Harga Energi hingga Permintaan Global
Susilo memaparkan, kenaikan harga energi global memang memberi keuntungan bagi sektor komoditas seperti batu bara dan gas alam cair (LNG) melalui efek harga (price effect).
Namun di sisi lain, sektor manufaktur justru menghadapi tekanan berlapis. Biaya produksi meningkat, rantai pasok terganggu, serta permintaan global melemah.
Kombinasi ini memicu cost-push inflation sekaligus kontraksi permintaan (demand contraction) yang menekan industri dalam negeri.
Surplus Perdagangan Menyusut
Ia menilai penyusutan surplus perdagangan Indonesia tidak bisa dilihat sebagai penurunan permintaan semata.
“Penyusutan surplus perdagangan merupakan kombinasi dari price effect, volume effect, serta dinamika impor energi,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan adanya external shock yang memengaruhi struktur neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.
Risiko Re-Primarisasi Ekonomi
Susilo mengingatkan, sektor manufaktur padat energi menjadi yang paling rentan terhadap guncangan geopolitik. Industri yang terhubung dalam rantai nilai global memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku dan energi.
Jika kondisi ini tidak diantisipasi, dominasi sektor komoditas berpotensi kembali menguat.
“Ketika sektor komoditas semakin dominan akibat kenaikan harga global, sementara manufaktur melemah, terdapat risiko re-primarisasi ekonomi,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dinilai dapat menurunkan daya saing industri nasional serta memperlambat transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi.
Susilo menegaskan, dinamika konflik geopolitik global perlu dijadikan sinyal penting untuk memperkuat ketahanan struktur ekspor Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penumpang kereta api di Daop 6 Yogyakarta melonjak 54 persen menjelang libur Tahun Baru Islam. KAI menambah tiga perjalanan kereta untuk mengakomodasi lonjakan.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.
Kemhan mengevaluasi total Latsarmil SPPI 2026 usai lima peserta meninggal, mencakup seleksi kesehatan, latihan fisik, dan metode pembelajaran.
Bareskrim menyelidiki 15 perusahaan yang diduga menjadi sponsor 321 WNA dalam kasus sindikat judi online Hayam Wuruk.
Xpeng G6 AWD resmi meluncur di Indonesia dengan motor ganda, tenaga 358 kW, akselerasi 4,13 detik, dan identitas baru Black Edition.