Tol Jogja-Solo: Exit Toll Bokoharjo Ditarget Fungsional Lebaran 2027
Pembangunan Tol Jogja-Solo mencapai 98%. Jasa Marga menambah akses exit Tol Purwomartani menuju Bokoharjo yang ditargetkan fungsional saat Lebaran 2027.
Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Shadati
Harianjogja.com, JOGJA — Konflik geopolitik global yang melibatkan Iran mulai menekan kinerja ekspor Indonesia. Ketidakpastian global ini memicu kenaikan harga energi, mengganggu rantai pasok, serta melemahkan permintaan internasional.
Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, menjelaskan dampak tersebut terjadi melalui tiga jalur utama, yakni energy price shock, trade disruption, dan global demand contraction.
“Ketiganya saling memengaruhi. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi global, gangguan perdagangan memperlambat logistik, dan kontraksi permintaan membuat ekspor manufaktur semakin melemah,” ujarnya.
Tekanan dari Harga Energi hingga Permintaan Global
Susilo memaparkan, kenaikan harga energi global memang memberi keuntungan bagi sektor komoditas seperti batu bara dan gas alam cair (LNG) melalui efek harga (price effect).
Namun di sisi lain, sektor manufaktur justru menghadapi tekanan berlapis. Biaya produksi meningkat, rantai pasok terganggu, serta permintaan global melemah.
Kombinasi ini memicu cost-push inflation sekaligus kontraksi permintaan (demand contraction) yang menekan industri dalam negeri.
Surplus Perdagangan Menyusut
Ia menilai penyusutan surplus perdagangan Indonesia tidak bisa dilihat sebagai penurunan permintaan semata.
“Penyusutan surplus perdagangan merupakan kombinasi dari price effect, volume effect, serta dinamika impor energi,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan adanya external shock yang memengaruhi struktur neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.
Risiko Re-Primarisasi Ekonomi
Susilo mengingatkan, sektor manufaktur padat energi menjadi yang paling rentan terhadap guncangan geopolitik. Industri yang terhubung dalam rantai nilai global memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku dan energi.
Jika kondisi ini tidak diantisipasi, dominasi sektor komoditas berpotensi kembali menguat.
“Ketika sektor komoditas semakin dominan akibat kenaikan harga global, sementara manufaktur melemah, terdapat risiko re-primarisasi ekonomi,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dinilai dapat menurunkan daya saing industri nasional serta memperlambat transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi.
Susilo menegaskan, dinamika konflik geopolitik global perlu dijadikan sinyal penting untuk memperkuat ketahanan struktur ekspor Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan Tol Jogja-Solo mencapai 98%. Jasa Marga menambah akses exit Tol Purwomartani menuju Bokoharjo yang ditargetkan fungsional saat Lebaran 2027.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN membuka kanal khusus bagi guru untuk melaporkan keluhan, temuan, dan pengaduan terkait pelaksanaan Program MBG di sekolah.
Sebanyak 212 orang berhasil dievakuasi dari kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok. SAR melanjutkan pencarian pada Kamis.
Heatstroke dapat mengancam nyawa saat cuaca panas. Kenali gejala, pertolongan pertama, dan kelompok yang lebih rentan mengalaminya.