China Borong Rempah RI, Kapulaga Tembus 3.600 Ton

Newswire
Newswire Selasa, 07 Juli 2026 10:07 WIB
China Borong Rempah RI, Kapulaga Tembus 3.600 Ton

Warga menjemur rempah jenis kapulaga (elettaria cardamomum) di Desa Sidoharjo, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (22/8/2025). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa

Harianjogja.com, JAKARTA — China masih menjadi pasar utama ekspor rempah Indonesia sepanjang 2026. Permintaan tinggi terhadap komoditas seperti kapulaga hingga pala mendorong nilai ekspor terus meningkat, seiring tren kuliner dan industri makanan di Negeri Tirai Bambu yang semakin berkembang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, selama periode Januari–Mei 2026, Indonesia mengekspor 3.604 ton kapulaga ke China. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 98% dari total ekspor kapulaga nasional. Dari volume tersebut, nilai transaksi mencapai 17,8 juta dolar AS atau sekitar Rp319,7 miliar (kurs Rp17.960 per dolar AS).

Kapulaga menjadi komoditas strategis karena banyak digunakan dalam berbagai hidangan khas China, terutama hotpot, yang membutuhkan rempah dengan aroma kuat dan rasa hangat. Tingginya konsumsi makanan berbumbu menjadikan permintaan kapulaga relatif stabil bahkan cenderung meningkat.

Selain kapulaga, biji pala juga mencatatkan kinerja ekspor yang signifikan. Sepanjang awal 2026, Indonesia telah mengekspor 4.020 ton pala ke China dengan nilai mencapai 19,9 juta dolar AS atau sekitar Rp357,4 miliar.

Tidak hanya itu, sejumlah rempah lain turut menyumbang devisa dari pasar China. Ekspor cengkeh tercatat sebesar 3,2 juta dolar AS, sementara lada putih mencapai 2,2 juta dolar AS dan lada hitam sebesar 5,5 juta dolar AS.

Kinerja ekspor ini menunjukkan bahwa China masih menjadi pasar yang sangat potensial bagi rempah Indonesia. Permintaan tidak hanya datang dari sektor rumah tangga, tetapi juga industri makanan, minuman, hingga farmasi.

Pemerintah Indonesia pun terus mendorong penetrasi pasar melalui berbagai strategi promosi dan diplomasi dagang. Salah satunya dengan berpartisipasi dalam pameran internasional China Food Trade Fair 2026 yang digelar di Wuhan pada akhir Maret lalu.

Melalui ajang tersebut, pelaku usaha Indonesia berkesempatan memperluas jaringan bisnis sekaligus memperkenalkan kualitas rempah nusantara ke pasar global.

Ke depan, peluang ekspor rempah Indonesia diperkirakan masih terbuka lebar, terutama dengan meningkatnya tren konsumsi makanan sehat dan alami di pasar internasional. Namun demikian, pelaku usaha juga dihadapkan pada tantangan seperti standar kualitas, kontinuitas pasokan, serta persaingan dengan negara produsen lain.

Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpotensi memperkuat posisinya sebagai salah satu eksportir rempah terbesar dunia, sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online