IHSG Berpeluang Tembus 6.000, Ini Pendorongnya

Newswire
Newswire Selasa, 07 Juli 2026 10:47 WIB
IHSG Berpeluang Tembus 6.000, Ini Pendorongnya

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (7/7/2026), didorong kombinasi sentimen domestik dan global yang mulai membaik.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat naik 17,50 poin atau 0,30% ke level 5.933,57. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut menguat 1,60 poin atau 0,27% ke posisi 586,08.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan secara teknikal IHSG masih memiliki peluang melanjutkan tren kenaikan dalam jangka pendek. Bahkan, indeks berpotensi menguji level psikologis 6.000.

“Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000,” ujar Ratna dalam risetnya, Selasa.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari aksi Initial Public Offering (IPO) dua emiten yang mencatatkan sahamnya hingga menyentuh Auto Reject Atas (ARA). Kondisi ini dinilai dapat menjadi penopang pergerakan IHSG di tengah minimnya katalis lain.

Namun demikian, aktivitas perdagangan pada awal pekan masih cenderung lesu. Pada perdagangan Senin (6/7), volume transaksi tercatat sekitar 19,6 miliar saham dengan nilai transaksi Rp9,4 triliun. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata harian yang biasanya mencapai lebih dari 41 miliar saham dengan nilai sekitar Rp24 triliun.

Ratna menilai rendahnya aktivitas perdagangan dipengaruhi dominasi investor domestik yang cenderung bersikap wait and see. Selain itu, minimnya sentimen positif, maraknya aksi IPO, hingga faktor musiman seperti libur sekolah dan perhelatan Piala Dunia 2026 turut memengaruhi pergerakan pasar.

“Perdagangan relatif sepi karena investor masih menunggu arah pasar di tengah terbatasnya katalis,” katanya.

Dari sisi kebijakan fiskal, pasar juga mencermati potensi penurunan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027 menjadi sekitar Rp174 triliun dari sebelumnya Rp268 triliun. Penyesuaian ini didasarkan pada kebutuhan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diperkirakan turun dari 27.000 menjadi sekitar 21.000 titik, dengan sasaran sekitar 84 ribu penerima manfaat.

Jika realisasi penurunan anggaran tersebut terjadi, hal ini dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN dan berpotensi direspons positif oleh pelaku pasar.

Dari eksternal, sentimen global turut memberikan dukungan. Bursa saham Asia mencatatkan rekor tertinggi baru seiring rebound saham-saham sektor chip setelah sempat tertekan dalam dua pekan terakhir.

Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan turunnya harga minyak dunia membuat pelaku pasar kembali fokus pada sektor teknologi, khususnya terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Di Amerika Serikat, data ekonomi menunjukkan aktivitas sektor jasa masih berada di zona ekspansi. Indeks PMI jasa ISM tercatat sebesar 54,0 pada Juni 2026, sedikit turun dari 54,5 pada Mei, namun tetap mencerminkan pertumbuhan yang solid meski melambat.

Sementara itu, harga minyak dunia cenderung melemah dipicu oleh kebijakan Arab Saudi yang memangkas harga jual resmi, peningkatan target produksi OPEC+ mulai Agustus, serta pulihnya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun tipis ke level 4,469%, seiring sikap investor yang menunggu risalah terbaru FOMC dan perkembangan KTT NATO.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, bursa saham global bergerak variatif. Indeks-indeks utama di Eropa sebagian besar melemah, sementara Wall Street cenderung menguat dengan Dow Jones naik 0,29% dan S&P 500 menguat 0,72%, meski Nasdaq terkoreksi 1,26%.

Adapun pada perdagangan pagi ini, bursa Asia menunjukkan pergerakan beragam. Indeks Nikkei melemah 1,17%, Shanghai turun 0,78%, sementara Hang Seng menguat 0,50% dan Strait Times naik 0,89%.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, IHSG diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan, meski investor tetap disarankan mencermati dinamika global dan domestik yang dapat memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online