Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Tunggu The Fed

Newswire
Newswire Selasa, 07 Juli 2026 11:47 WIB
Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Tunggu The Fed

Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye

Harianjogja.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (7/7/2026) pagi tercatat bergerak stagnan. Rupiah dibuka di level Rp17.995 per dolar AS, sama persis dengan posisi penutupan sebelumnya.

Meski tampak stabil di awal perdagangan, tekanan terhadap rupiah dinilai masih cukup besar. Pelaku pasar cenderung berhati-hati menunggu arah kebijakan global, terutama dari bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed).

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini masih berpotensi melemah dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS. Sentimen global menjadi faktor utama yang memengaruhi arah mata uang Garuda.

“Pelaku pasar masih wait and see menjelang rilis notulen rapat The Fed pada 9 Juli waktu AS. Hal ini membuat pergerakan rupiah cenderung tertahan,” ujarnya, Selasa (7/7/2026)

Menurutnya, meskipun indeks dolar AS menunjukkan pelemahan dalam beberapa waktu terakhir, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga AS tetap menjadi perhatian utama investor global.

Pada pertemuan sebelumnya, The Fed masih berfokus pada target inflasi 2%. Namun, data tenaga kerja terbaru, khususnya nonfarm payrolls (NFP) yang lebih lemah dari perkiraan, membuka peluang perubahan pendekatan kebijakan moneter ke depan.

Kondisi ini membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh berpotensi lebih fleksibel dalam menentukan arah suku bunga, terutama jika tekanan ekonomi meningkat.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sejumlah indikator ekonomi. Salah satunya adalah neraca perdagangan yang mencatatkan defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Selain itu, arus modal keluar (capital outflow) di pasar saham sejak awal Juli tercatat mencapai Rp2,73 triliun.

Faktor lain yang turut memengaruhi sentimen pasar adalah data cadangan devisa Indonesia yang akan dirilis oleh Bank Indonesia (BI) pada siang hari ini. Pelaku pasar memperkirakan cadangan devisa mengalami sedikit penurunan akibat intervensi BI di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.

Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia diperkirakan masih berada pada level aman, yakni di atas standar kecukupan internasional yang setara dengan pembiayaan lebih dari lima bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Di tengah tekanan tersebut, rupiah masih memiliki peluang untuk bergerak stabil jika sentimen global membaik, terutama terkait arah kebijakan suku bunga AS dan kondisi geopolitik dunia.

Bagi pelaku pasar dan investor, kondisi ini menjadi sinyal untuk lebih cermat dalam mengambil keputusan, terutama dalam menghadapi volatilitas nilai tukar yang masih cukup tinggi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online