IHSG Dibuka Melemah ke 6.191, Pasar Tunggu The Fed

Newswire
Newswire Kamis, 18 Juni 2026 09:47 WIB
IHSG Dibuka Melemah ke 6.191, Pasar Tunggu The Fed

Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.

Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (18/6/2026) pagi dibuka melemah. IHSG terkoreksi 28,85 poin atau 0,46 persen ke level 6.191,89.

Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 5,28 poin atau 0,84 persen ke posisi 619,95. Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu sejumlah sentimen penting, baik dari dalam maupun luar negeri.

IHSG Tertekan Sejak Penutupan Sebelumnya

Pada perdagangan Rabu (17/6/2026) sore, IHSG sudah lebih dulu ditutup melemah 34,23 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.220,74. Di sisi lain, indeks LQ45 justru mencatatkan kenaikan tipis 0,55 poin atau 0,09 persen ke level 625,23.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut pergerakan IHSG cenderung variatif seiring pelaku pasar yang bersikap wait and see terhadap berbagai agenda ekonomi penting.

“IHSG bergerak mixed di tengah menantikan sejumlah agenda penting,” ujarnya.

Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan BI

Investor saat ini mencermati arah kebijakan suku bunga global dan domestik. Fokus utama tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed serta Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang sama-sama berlangsung pada Kamis (18/6/2026).

Berdasarkan konsensus pasar, The Fed diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5–3,75 persen. Sementara itu, Bank Indonesia diprediksi menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Selain itu, pelaku pasar juga menunggu sejumlah agenda global lainnya, seperti MSCI Global Market Accessibility Review dan rebalancing indeks FTSE pada 19 Juni 2026, serta MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.

Tekanan Rupiah Ikut Membayangi

Pelemahan IHSG juga sejalan dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang ditutup melemah 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar AS pada Rabu (17/6/2026). Kondisi ini menambah tekanan bagi pasar saham domestik.

Pada perdagangan kemarin, IHSG sempat bergerak di zona positif pada sesi pertama. Namun, tekanan jual meningkat pada sesi kedua sehingga indeks berbalik melemah hingga penutupan.

Pergerakan Sektoral dan Saham

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya dua sektor yang mencatatkan penguatan, yaitu sektor barang konsumen primer yang naik 0,58 persen serta sektor infrastruktur yang menguat 0,32 persen.

Sementara itu, sembilan sektor lainnya berada di zona merah. Sektor industri mencatatkan penurunan terdalam sebesar 2,51 persen, diikuti sektor transportasi dan logistik yang turun 2,03 persen serta sektor energi yang melemah 2,01 persen.

Untuk pergerakan saham, sejumlah emiten yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain BCIC, DEFI, ESIP, RONY, dan KONY. Sedangkan saham dengan penurunan terdalam meliputi GHON, BINA, NZIA, BREN, dan POLU.

Aktivitas Perdagangan dan Bursa Asia

Frekuensi perdagangan saham tercatat mencapai 2,31 juta kali transaksi. Volume saham yang diperdagangkan mencapai 31,47 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp24,67 triliun.

Sebanyak 306 saham menguat, 409 saham melemah, dan 244 saham stagnan.

Di kawasan Asia, pergerakan bursa saham cenderung variatif. Indeks Nikkei menguat 0,83 persen ke 69.980,00, indeks Shanghai naik 0,40 persen ke 4.108,08, indeks Strait Times menguat 1,16 persen ke 5.176,46, sementara indeks Hang Seng melemah 0,74 persen ke 24.312,16.

IHSG Berpotensi Fluktuatif

Dengan banyaknya sentimen yang masih dinanti, pergerakan IHSG diperkirakan akan tetap fluktuatif dalam jangka pendek. Investor cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter global dan domestik.

Kondisi ini membuat pasar saham bergerak lebih berhati-hati, dengan potensi volatilitas yang masih cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online