IHSG Anjlok 1,72 Persen, Tertekan Bursa Global dan Saham Teknologi
IHSG melemah 1,72% ke 5.896,13 dipicu tekanan bursa global dan saham teknologi, investor tunggu data ekonomi domestik.
Petani saat memanfaatkan teknologi peralatan pengolahan gula semut berbasis nira sorgum manis sebagai alternatif sumber gula yang dikembangkan oleh Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). - ANTARA/ist-BRIN
Harianjogja.com, JAKARTA—Pengembangan teknologi pengolahan gula semut berbasis sorgum mulai menunjukkan potensi baru bagi pelaku usaha kecil, terutama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal. Inovasi ini menghadirkan proses produksi yang lebih efisien dan higienis dibandingkan metode tradisional.
Teknologi tersebut dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan sistem peralatan terintegrasi, mulai dari pemerasan batang sorgum hingga menghasilkan gula semut siap kemas. Kapasitasnya mencapai sekitar 30 liter nira per proses, sehingga dinilai cocok untuk skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta kelompok tani di daerah.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Sandi Darniadi, menjelaskan sorgum dipilih karena fleksibilitas pemanfaatannya. Tanaman ini masih satu keluarga dengan tebu, tetapi dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk gula, melainkan juga bioetanol hingga pakan ternak.
"Sorgum itu satu keluarga dengan tebu, tetapi lebih fleksibel pemanfaatannya. Selain untuk gula, bisa juga untuk bioetanol hingga pakan. Semua bagian tanaman bisa dimanfaatkan," kata Sandi di Jakarta, Senin.
Dari sisi produksi, sekitar 100 kilogram batang sorgum dapat menghasilkan hingga 20 liter nira, tergantung kondisi tanaman dan lingkungan. Kandungan gula dalam sorgum memang lebih rendah dibandingkan tebu, yakni sekitar 11–15 persen, tetapi tetap menjanjikan sebagai alternatif bahan baku gula, khususnya bagi petani skala kecil.
Proses pengolahan dimulai dengan mesin roller press untuk mengekstraksi nira. Selanjutnya, nira diolah melalui dua metode, yakni vacuum evaporator dan open pan cooker. Metode vacuum evaporator bekerja dalam sistem tertutup pada suhu sekitar 60–70 derajat Celsius untuk menghasilkan gula cair atau sirup sorgum.
Sementara itu, open pan cooker digunakan untuk menghasilkan gula semut. Proses ini berlangsung pada suhu lebih tinggi, sekitar 90–100 derajat Celsius, dengan waktu pemasakan lebih lama hingga kadar air turun menjadi sekitar 5–6 persen dan terbentuk kristal gula.
"Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam, tergantung kandungan gula awalnya," ujar Sandi.
Setelah pemasakan, gula yang masih menggumpal dikeringkan kembali menggunakan oven dehydrator agar kadar air semakin rendah. Tahap akhir dilakukan dengan mesin penghancur (crusher) untuk menghasilkan butiran gula semut yang siap dikemas dan dipasarkan.
Dari sisi efisiensi, teknologi ini menggunakan gas sebagai sumber panas, berbeda dengan metode tradisional yang masih mengandalkan kayu bakar. Penggunaan gas dinilai lebih hemat energi dan mudah dikontrol dalam proses produksi.
Selain itu, seluruh peralatan dibuat dari material stainless steel tipe food grade sehingga lebih higienis dan memenuhi standar keamanan pangan. Desain alat juga dibuat modular dan mudah dipindahkan, sehingga mendukung penggunaan di berbagai wilayah produksi.
Meski teknologi pengolahan sudah tersedia, tantangan utama masih berada pada sektor hulu, yakni keberlanjutan budi daya sorgum. Minat petani dinilai masih bergantung pada faktor ekonomi, terutama perbandingan harga dengan komoditas lain seperti jagung dan padi.
Sandi berharap inovasi ini dapat mendorong peningkatan minat petani terhadap sorgum, sehingga terbentuk rantai produksi yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
"Kalau bahan bakunya tersedia dan industrinya jalan, maka rantai nilai sorgum ini bisa berkembang," tutur Sandi Darniadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
IHSG melemah 1,72% ke 5.896,13 dipicu tekanan bursa global dan saham teknologi, investor tunggu data ekonomi domestik.
Pemkab Temanggung merintis program SMP negeri gratis mulai 2027 dengan bantuan Rp300 ribu per siswa sebagai langkah menuju pendidikan gratis.
Gelombang panas Jerman memicu suhu hingga 41,3 derajat Celsius. Otoritas memperingatkan risiko kesehatan dan gangguan transportasi.
Program RTLH Kulonprogo 2026 memasuki tahap pembangunan. Sebanyak 180 rumah dibangun, progres fisik mencapai 25 persen tanpa terdampak efisiensi anggaran.
Libur sekolah 2026 diprediksi mendongkrak wisata Karanganyar. The Lawu Group perketat keamanan, hadirkan promo, dan optimistis kunjungan meningkat.
Investigasi mengungkap dugaan hacker Rusia berada di balik peretasan Jaguar Land Rover yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar.