Asap Bus Trans Jogja Diprotes Warga, Dishub DIY Akui Armada Sudah Uzur
Dishub DIY menanggapi keluhan asap hitam Trans Jogja. Sebanyak 74 persen armada berusia di atas 7 tahun dan tetap menjalani perawatan rutin.
Pertumbuhan ekonomi ilustrasi./Freepik
Harianjogja.com, JOGJA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi diperkirakan akan memberikan dampak terhadap inflasi di Daerah Istimewa Jogja (DIY), meski dalam skala terbatas. Ekonom dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Nano Prawoto, menilai tekanan inflasi yang muncul cenderung moderat dan tidak berlangsung secara langsung.
Nano memperkirakan inflasi DIY yang sebelumnya berada di angka 4,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026 berpotensi naik menjadi kisaran 4,28% hingga 4,58%. Meski kenaikannya relatif kecil, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi nasional yang berada di rentang 2,5% hingga 3,5%.
Menurutnya, kenaikan harga BBM non subsidi tidak serta-merta memicu lonjakan harga secara drastis. Hal ini disebabkan sebagian besar pelaku usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masih menggunakan BBM bersubsidi dalam operasionalnya.
“Dampaknya tetap ada, tetapi sifatnya tidak langsung dan relatif kecil,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Meski demikian, Nano menyoroti adanya efek psikologis pasar yang turut berperan dalam mendorong inflasi. Kenaikan BBM seringkali memicu ekspektasi harga yang lebih tinggi di masa mendatang. Kondisi ini membuat produsen cenderung meningkatkan stok bahan baku maupun barang jadi sebagai langkah antisipasi.
Di sisi lain, konsumen juga terdorong untuk membeli barang dalam jumlah lebih banyak sebelum harga benar-benar naik. Pola perilaku ini, baik dari sisi produsen maupun konsumen, secara tidak langsung turut menekan harga ke atas.
Karakter inflasi di DIY sendiri dinilai memiliki kekhasan tersendiri, terutama karena erat kaitannya dengan sektor pariwisata. Momentum libur panjang, musim liburan sekolah, hingga hari raya kerap menjadi pemicu naiknya permintaan barang dan jasa, khususnya di sektor makanan dan minuman.
Selain itu, sektor lain seperti perawatan pribadi—terutama untuk segmen menengah atas—serta sektor perumahan juga berpotensi terdampak. Kenaikan harga bahan bangunan seperti besi dan semen disebut bisa ikut mendorong tekanan inflasi.
Nano juga menilai bahwa masyarakat tidak serta-merta beralih ke sumber energi yang lebih murah akibat kenaikan BBM non subsidi. Sebaliknya, sebagian besar justru memilih untuk menghemat konsumsi energi, baik dari penggunaan BBM, listrik, maupun gas.
Langkah penghematan ini dilakukan sebagai respons terhadap ketidakpastian ekonomi global, termasuk dinamika geopolitik yang turut memengaruhi stabilitas harga energi.
Dengan kondisi tersebut, inflasi di DIY diperkirakan tetap terkendali, meski perlu diantisipasi agar tidak bergerak terlalu jauh di atas rata-rata nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dishub DIY menanggapi keluhan asap hitam Trans Jogja. Sebanyak 74 persen armada berusia di atas 7 tahun dan tetap menjalani perawatan rutin.
Baznas Kulonprogo telah menyalurkan 40 tangki air bersih ke 11 titik kekeringan. Sebanyak 200 tangki disiapkan selama musim kemarau.
Bareskrim mengungkap MV King Sun tiga kali menyelundupkan ketamin. Pengiriman ke Indonesia sebanyak 1.298 kg berhasil digagalkan.
KPK belum menahan Yuddy Renaldi dalam kasus dugaan korupsi iklan Bank BJB karena mempertimbangkan kondisi kesehatannya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.