Inflasi DIY Juni 2026 Naik 0,37 Persen, Kenaikan BBM Jadi Pemicu Utama
Inflasi DIY Juni 2026 mencapai 0,37% secara bulanan. Kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi penyumbang terbesar inflasi menurut BPS DIY.
Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA — Kinerja ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren positif di awal 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 mencapai 5,84% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi tumbuh 0,87% dibandingkan triwulan IV 2025.
Capaian ini menjadi sinyal optimisme bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi hingga menyentuh angka 6% pada akhir tahun. Wakil Ketua Umum Kadin DIY, Hermawan Ardiyanto, menyebut sektor jasa dan perdagangan menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut, terutama didorong geliat pariwisata di Jogja.
Menurutnya, sektor pariwisata memiliki efek berantai yang luas terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, restoran, hingga industri kreatif.
"Tourism kan dampaknya lebar ke hotel, restoran, banyaklah tidak hanya industri kreatif, perdagangan. Tourism ini bisa kita manfaatkan added value-nya lebih tinggi," ucapnya di Kompleks Kepatihan, Sabtu (8/5/2026).
Hermawan menekankan bahwa strategi ke depan tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga kualitas pengeluaran mereka selama berada di Jogja. Ia menilai potensi peningkatan belanja wisatawan masih sangat besar.
"Jadi kualitas turis ini yang kalau ini jadi perhatian kita, saya yakin bukan tidak mungkin 6% akan tercapai," tuturnya.
Selain sektor pariwisata, tantangan global seperti pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian. Hermawan menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi faktor eksternal dan tingginya impor. Namun, pelaku usaha dapat menyiasatinya dengan memperluas pasar ekspor ke negara non-tradisional.
"Dan juga Indonesia kan sudah bergabung dalam BRICS juga. Mudah-mudahan alternatif-alternatif currency lah ya selain dolar bisa dimanfaatkan," paparnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengakui target pertumbuhan ekonomi 6% bukan perkara mudah. Sejumlah faktor seperti fluktuasi nilai tukar dan kondisi investasi masih menjadi tantangan.
"Dengan kondisi ekonomi yang seperti ini ya investasi, nilai tukar uang yang juga cukup tinggi kan. Itu kan mempengaruhi juga," ucapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa sektor UMKM dan industri kecil menengah (IKM) tetap menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Selain itu, kinerja ekspor DIY dinilai cukup menjanjikan, terutama dengan diversifikasi pasar ke Timur Tengah dan Asia.
"Kemarin kita ada Jogja furniture itu, nah itu juga kan tidak semuanya ke Amerika gitu, ke negara-negara Arab, kemudian ke Cina juga," lanjutnya.
Dengan kombinasi penguatan sektor pariwisata, UMKM, dan ekspor, peluang DIY untuk menembus pertumbuhan ekonomi 6% pada 2026 dinilai masih terbuka lebar, meski membutuhkan strategi yang tepat dan konsistensi kebijakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Inflasi DIY Juni 2026 mencapai 0,37% secara bulanan. Kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi penyumbang terbesar inflasi menurut BPS DIY.
BRIN dorong pembahasan RUU Pemilu dipercepat agar Pemilu 2029 berjalan berkualitas dan sesuai tahapan.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.
KPK menetapkan Bupati Langkat Syah Afandin sebagai tersangka OTT terkait suap proyek dan gratifikasi senilai Rp3,5 miliar.
Witan Sulaeman resmi perpanjang kontrak 3 tahun di Persija Jakarta. Siap tampil maksimal di bawah pelatih Shin Tae-yong.
Harga iPhone Juli 2026 di iBox turun, terutama iPhone 16e. Simak daftar lengkap harga terbaru dan seri baru iPhone 17e.