DIY Larang Perdagangan Anjing hingga Kelelawar untuk Pangan
DPRD DIY menyetujui Raperda yang melarang perdagangan anjing, kucing, kera, kelelawar, musang, dan HPR lain untuk tujuan pangan.
Prof. Edy Suandi Hamid./Harian Jogja-Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Transformasi ekonomi di DIY dan Jawa Tengah dinilai tidak sepenuhnya menggeser akar budaya lokal. Ekonom menilai, budaya bahkan bisa menjadi fondasi dalam pengembangan jenama di sektor unggulan seperti pariwisata dan pendidikan.
Ekonom yang juga Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Prof Edy Suandi Hamid, menilai karakter ekonomi DIY dan Jawa Tengah memiliki perbedaan mendasar, baik dari sisi skala maupun sektor unggulan.
Meski begitu, keduanya memiliki kesamaan dalam posisi geografis yang strategis sebagai penghubung di Pulau Jawa. “DIY dengan penduduk kurang dari 4 juta jelas berbeda dengan Jawa Tengah yang hampir 40 juta. Tetapi keduanya sama-sama berada di tengah Pulau Jawa, sehingga punya potensi besar sebagai hub ekonomi,” kata Prof Edy, Senin (11/5).
Dia menjelaskan, struktur ekonomi DIY lebih bertumpu pada sektor pariwisata, pendidikan, dan UMKM, yang sangat lekat dengan budaya lokal. Berbeda dengan Jawa Tengah yang lebih kuat di sektor industri besar.
Menurutnya, keunggulan tersebut justru menjadi peluang bagi DIY untuk mengembangkan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pertumbuhan, tetapi juga pelestarian budaya. “Brand pariwisata di Jogja harus didesain berbasis budaya, bukan by accident. Jadi bagaimana sektor ini ikut mendukung pengembangan kebudayaan lokal,” katanya.
Dia mencontohkan bagaimana institusi pendidikan di DIY masih berupaya menjaga nilai budaya, salah satunya melalui mata kuliah khas yang menanamkan nilai kejogjaan, termasuk di antaranya penggunaan simbol budaya dalam kegiatan akademik.
Spirit Budaya
Dalam konteks pelaku usaha, Edy mengakui sebagian besar bisnis pada dasarnya tetap berorientasi pada keuntungan.
Namun, khusus di DIY, nilai budaya dinilai masih cukup kuat memengaruhi arah kebijakan dan praktik bisnis. “Saya melihat business is business, orientasinya tetap profit. Tetapi di Jogja, spirit budaya itu masih ada. Bahkan dalam kebijakan bisnis, dampaknya terhadap budaya juga dipikirkan,” ujar dia.
Prof. Edy menyebut filosofi lokal seperti Hamemayu Hayuning Bawono masih menjadi rujukan dalam praktik ekonomi, termasuk dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan sosial. “Kalau bisnis itu merusak lingkungan, ya tidak sesuai dengan prinsip kita. Filosofinya adalah memelihara dan melestarikan alam,” katanya.
Terkait dampak jangka panjang, Edy menilai kesadaran terhadap praktik bisnis berkelanjutan memang belum sepenuhnya merata di Indonesia.
Namun, di DIY, kondisi tersebut relatif lebih baik karena pengaruh kepemimpinan dan kuatnya nilai budaya di masyarakat. “Secara nasional kita akui belum semua bisnis peduli lingkungan. Tetapi di Jogja relatif lebih baik, karena ada pengaruh kuat dari kepemimpinan dan filosofi yang dijaga,” kata dia.
Ketimpangan Ekonomi
Dalam beberapa tahun ke depan, Edy memproyeksikan pertumbuhan ekonomi DIY dan Jawa Tengah masih akan sejalan dengan tren nasional, bahkan dalam beberapa tahun terakhir mampu tumbuh di atas rata-rata nasional.
Namun demikian, dia mengingatkan masih adanya persoalan ketimpangan ekonomi di DIY yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah. “Pertumbuhannya bagus, bahkan di atas nasional. Tapi ketimpangan di Jogja masih tinggi. Ini yang harus dibenahi agar manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih merata,” ujarnya.
Guna mengapresiasi jenama serta institusi yang berkontribusi nyata bagi ekosistem wilayah, Harian Jogja berinisiatif menggelar Jogja Brand and Business Award (JBBA) 2026.
Penghargaan dan apresiasi ini diharapkan bisa menjadi tolok ukur yang kredibel berbasis data dan analisis media, sekaligus menjadi referensi publik dalam memilih jenama yang relevan dan bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD DIY menyetujui Raperda yang melarang perdagangan anjing, kucing, kera, kelelawar, musang, dan HPR lain untuk tujuan pangan.
Sensus Ekonomi 2026 BPS DIY dapat membantu pelaku usaha membaca potensi ekonomi, peluang pasar, dan investasi di berbagai wilayah.
OJK mengkaji dampak penutupan 833 dapur SPPG terhadap kredit perbankan, termasuk jumlah SPPG yang mendapat pembiayaan bank.
Pertamina mengungkap program streamlining anak usaha yang telah dilakukan pada semester I/2026 setelah mendapat arahan Presiden Prabowo.
KAI Daop 1 Jakarta menyiapkan 234.815 kursi KA Jarak Jauh selama libur HUT ke-81 RI, 13-18 Agustus 2026.
Bendera Merah Putih sepanjang 1 kilometer akan dibentangkan dalam Parade Kebangsaan di Jogja dengan lebih dari 2.000 peserta.