Ekonomi Jogja Tumbuh 5,84 Persen, Ini Sektor Paling Moncer
Ekonomi DIY tumbuh 5,84% pada triwulan I 2026, didorong sektor pariwisata, konsumsi, dan investasi.
Impor Ekspor - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Kinerja perdagangan luar negeri Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan I 2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global. Meski nilai ekspor dan impor sama-sama mengalami penurunan secara tahunan, surplus neraca perdagangan DIY justru meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat surplus perdagangan Januari–Maret 2026 mencapai 99,96 juta dolar AS. Nilai tersebut naik 10,79 juta dolar AS dibanding triwulan I 2025.
Plt. Kepala BPS DIY, Ir. Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan nilai ekspor DIY pada Maret 2026 tercatat sebesar 39,56 juta dolar AS. Angka itu turun 14,61% dibandingkan Maret 2025 akibat melemahnya sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi penopang utama ekspor daerah.
Secara kumulatif, ekspor DIY sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai 137,97 juta dolar AS atau masih tumbuh tipis 0,60% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
“Komoditas utama ekspor DIY masih didominasi oleh produk tekstil dan turunannya, terutama pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan) dengan peran sebesar 34,67% terhadap total ekspor,” ujar Endang.
Selain produk pakaian nonrajutan, komoditas unggulan lainnya yang menopang ekspor DIY meliputi pakaian rajutan dan barang dari kulit samak. Hampir seluruh ekspor DIY juga masih berasal dari sektor industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 99,04%.
Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar DIY selama Januari–Maret 2026 dengan nilai mencapai 64,64 juta dolar AS. Selain AS, pasar utama lainnya adalah Jerman dan Australia. Ketiga negara tersebut menyumbang total 62,37% terhadap keseluruhan ekspor DIY.
Di sisi lain, impor DIY juga mengalami penurunan cukup dalam. Nilai impor Maret 2026 tercatat sebesar 9,29 juta dolar AS atau turun 36,34% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Penurunan impor terutama dipicu berkurangnya pembelian bahan baku dan bahan penolong industri yang selama ini mendominasi struktur impor DIY.
Secara kumulatif, nilai impor Januari–Maret 2026 mencapai 38,01 juta dolar AS atau turun 20,77% dibanding triwulan I 2025.
Menurut Endang, impor DIY masih didominasi bahan baku dan penolong dengan kontribusi sekitar 89,10%. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas industri di DIY masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.
“Negara asal impor utama DIY meliputi Tiongkok, Hong Kong, dan Amerika Serikat yang secara bersama-sama menyumbang hampir 70% dari total impor,” katanya.
Komoditas impor DIY sendiri didominasi kain rajutan dan berbagai bahan tekstil lainnya yang digunakan untuk kebutuhan industri pengolahan lokal.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yuna Pancawati, menilai fluktuasi ekspor bulanan belum bisa langsung disimpulkan penyebabnya. Menurut dia, tren penurunan baru bisa dianalisis setelah berlangsung dalam beberapa periode.
Ia mengatakan kondisi ekonomi global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi ekspor nasional maupun daerah, termasuk DIY. Pelemahan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang membuat sebagian importir menahan permintaan barang.
“Sehingga importir masih ada yang menahan permintaan barang seperti ASEAN, Eropa, Jepang, Inggris dan Korea Selatan, walaupun untuk beberapa produk saat ini masih aman permintaannya, paling tidak sampai pertengahan tahun,” ujar Yuna.
Selain pelemahan permintaan global, kenaikan biaya bahan baku, bahan penolong produksi, serta ongkos logistik internasional juga ikut menekan daya saing ekspor.
Meski demikian, Yuna menyebut pasar Amerika Serikat, Australia, dan Spanyol masih mampu mendongkrak nilai ekspor DIY pada awal tahun ini.
Pemda DIY juga terus mendorong perluasan pasar ekspor baru melalui business matching, pelatihan ekspor, hingga penyediaan informasi akses pasar internasional.
Menurut Yuna, pasar Amerika dan Eropa masih menjadi target utama karena dinilai cocok dengan karakter produk DIY yang didominasi industri kreatif bernilai seni tinggi.
“Pasar Amerika dan Eropa akan tetap terus kita tingkatkan ekspornya, mengingat produk DIY yang lebih banyak produk industri kreatif dengan nilai seni tinggi,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ekonomi DIY tumbuh 5,84% pada triwulan I 2026, didorong sektor pariwisata, konsumsi, dan investasi.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.