Bulog DIY Optimistis Serapan Beras 100 Persen Sebelum Pertengahan Juni

Anisatul Umah
Anisatul Umah Sabtu, 16 Mei 2026 18:57 WIB
Bulog DIY Optimistis Serapan Beras 100 Persen Sebelum Pertengahan Juni

Suasana jual beli di Pasar Kranggan Jetis, Kota Jogja, Sabtu (16/5/2026).

Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah panen yang melimpah dan optimisme petani yang kembali menguat, Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Yogyakarta terus mempercepat penyerapan gabah dan beras sepanjang 2026.

Hingga 14 Mei 2026, Perum Bulog Kanwil Yogyakarta telah menyerap 160.792 ton setara beras atau 82% dari target tahun 2026. Di mana target penyerapan gabah Bulog Kanwil Yogyakarta tahun ini mencapai 195.000 ton setara beras.

Pemimpin Perum Bulog Kanwil Yogyakarta, Dedi Aprilyadi, memproyeksikan serapannya akan tembus 100% sebelum pertengahan Juni 2026. Dia mengatakan peningkatan produksi panen petani menjadi salah satu faktor  tingginya serapan beras tahun ini.

Selain itu, Dedi menyebut adanya perluasan area panen dan peran aktif pemerintah di bawah Kementerian Pertanian juga sangat mendukung capaian penyerapan Bulog tahun ini.

"Kami perkirakan sebelum pertengahan Juni, kami akan capai target 100 persen," ungkapnya, Sabtu, (16/5/2026).

Ia menjelaskan, terkait potensi dampak El Nino, Bulog Kanwil Yogyakarta optimistis panen di DIY tetap dapat berjalan baik seperti tahun lalu. Didukung langkah mitigasi pemerintah sejak awal, seperti mekanisasi pertanian, pompanisasi, dan optimalisasi lahan pertanian untuk menjaga produktivitas petani.

Selain itu, kata Dedi, Bulog Kanwil Yogyakarta juga memastikan kesiapan menyerap hasil panen petani sehingga petani tidak perlu khawatir hasil panennya tidak terserap. Dia menjelaskan masyarakat tidak perlu khawatir dengan kelangkaan beras, karena stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Bulog saat ini menjadi yang terbanyak sepanjang sejarah.

"Kami optimis El Nino bisa dilewati dengan baik," jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan terkait stok pangan saat ini masih dalam kondisi stabil. Menurutnya operasi pasar juga terus dilakukan baik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

"Insya Allah aman [stok beras]. Operasi pasar juga terus dilakukan teman-teman," tuturnya.

Bulog DIY Distribusikan 900.000 Liter Minyakita

Adapun untuk penyaluran Minyakita, Dedi mengatakan Perum Bulog Kanwil Yogyakarta telah menyalurkan sekitar 900.000 liter sepanjang tahun 2026. Penyaluran Minyakita dilakukan melalui berbagai saluran penjualan, di antaranya pasar Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) di seluruh kabupaten/kota di DIY, serta melalui jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

"Bulog merupakan salah satu dari distributor yang ditunjuk pemerintah dalam menyalurkan Minyakita. Selain itu minyakita juga disalurkan oleh BUMN pangan lain dan pihak swasta," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, mekanisme pengajuan tambahan pasokan Minyakita dilakukan melalui pendataan pedagang oleh Dinas Perdagangan di masing-masing kabupaten/kota, terutama untuk pasar SP2KP.  Menurutnya, pengajuan akan diteruskan ke Bulog untuk dijadwalkan pengirimannya ke pasar yang membutuhkan.

Ia menambahkan, masyarakat yang membutuhkan Minyakita bisa mengakses melalui jaringan pengecer Bulog dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) penjualan ke konsumen Rp15.700 per liter.

"Bulog berkomitmen menjaga ketersediaan dan keterjangkauan Minyakita di masyarakat," lanjutnya.

Terpisah Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan Bantul, Praptanugraha, menjelaskan beberapa pasar termasuk Bantul sudah ada distribusi Minyakita. Sementara untuk bulan April yang sudah mengajukan ke dinas adalah Pasar Imogiri.

"Yang Maret kemarin beberapa pasar sudah ya, di pertengahan Maret gitu. April kita lihat stok di lapangan termasuk kemampuan pedagang juga," ujarnya.

Ia menjelaskan distribusi ke pasar sistemnya adalah cash and carry, jadi pedagang harus membayar di awal. Menurutnya apabila stok dari pedagang sudah mulai berkurang, bisa mengajukan ke dinas dan akan dikomunikasikan ke Disperindag Provinsi untuk dihubungkan ke Bulog atau distributor.

"Kalau pedagang merasa stoknya sudah berkurang, mereka mengajukan ke pasar, ke kami, kami biasanya proses. Karena itu kan juga termasuk kemampuan pedagang dalam membayar juga toh," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, terkait pasokan, biasanya dari pedagang dan dinas saling menginfokan, misal stoknya berkurang, lalu terkait kemampuan pedagang. Semua data ini, kata dia, akan dicatat dan di resume.

"Kalau yang bulan April yang sudah mengajukan di Imogiri ya. Biasanya beberapa pedagang berhimpun, jadi kita kalkulasi berapa keperluannya baru kita ajukan," lanjutnya.

Langkah Antisipasi El Nino Menurut Pakar

Ancaman El Nino berpotensi memicu kekeringan di berbagai wilayah, termasuk Yogyakarta. Kondisi ini mendorong perlunya langkah antisipasi sejak dini, terutama di sektor pertanian.

Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya, menyebut petani perlu menyesuaikan strategi tanam agar dampak kekeringan dapat ditekan.

Menurut Oki, petani disarankan menyesuaikan kalender tanam dengan prakiraan musim, memilih varietas tahan kering, serta mengatur pola tanam sesuai ketersediaan air.

Selain itu, efisiensi penggunaan air menjadi kunci, termasuk melalui pemanfaatan mulsa, embung, hingga sumur dangkal. Diversifikasi tanaman juga dinilai penting untuk mengurangi risiko gagal panen.

"Antisipasi El Nino perlu dilakukan sejak awal melalui penyesuaian waktu tanam, pengamanan sumber air, dan pemilihan komoditas yang lebih adaptif," ujarnya.

Oki menjelaskan komoditas yang paling rentan terdampak adalah padi, terutama di lahan tadah hujan atau irigasi terbatas.

Selain itu, tanaman hortikultura seperti cabai dan bawang juga berisiko tinggi karena membutuhkan suplai air stabil.

"Di DIY, komoditas yang perlu diwaspadai utamanya adalah padi, lalu hortikultura yang sensitif terhadap kekeringan," katanya.

Secara ilmiah, El Nino berkaitan dengan penurunan curah hujan, peningkatan suhu, serta tingginya penguapan yang berujung pada berkurangnya ketersediaan air tanah dan irigasi.

Kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas tanaman, bahkan memicu puso di sejumlah wilayah, terutama pada lahan kering dan daerah dengan pasokan air terbatas.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Eko Aris Nugroho, menyatakan telah memetakan potensi dampak berdasarkan data BMKG. Menurutnya, pengalaman El Nino sebelumnya pada 2023 menjadi pelajaran penting, terutama terkait pergeseran musim tanam.

DPKP DIY mendorong petani segera memulai tanam selagi ketersediaan air masih mencukupi. Infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi, pompa, dan alat mesin pertanian juga diminta dioptimalkan.

"Kami berharap para petani segera menanam tanamannya, jangan ditunda. Karena dengan kondisi air masih mencukupi ini memungkinkan untuk menanam," paparnya.

Berbagai strategi disiapkan, mulai dari pemetaan wilayah rawan, sistem peringatan dini, hingga pembentukan brigade kekeringan.

Selain itu, pemerintah mendorong penggunaan varietas padi tahan kering seperti Inpago dan Inpari, serta penguatan pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, dan sumur dangkal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online