Kinerja Perbankan Nasional Kuat, Himbara Tahan Tekanan Global

Newswire
Newswire Minggu, 17 Mei 2026 16:57 WIB
Kinerja Perbankan Nasional Kuat, Himbara Tahan Tekanan Global

Ilustrasi bank. Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA — Kinerja sektor perbankan nasional menunjukkan ketahanan yang solid di tengah tekanan ekonomi global. Pertumbuhan kredit yang tetap terjaga menjadi indikator kuat bahwa fundamental industri perbankan Indonesia masih berada dalam kondisi sehat, terutama pada kelompok bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana menilai, kemampuan bank-bank BUMN dalam menjaga pertumbuhan kredit dan profitabilitas tidak lepas dari struktur bisnis yang kuat serta dukungan pemerintah. Selain itu, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional juga tetap tinggi di tengah ketidakpastian global.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh 9,49 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp8.659,05 triliun per Maret 2026. Angka ini meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen yoy, menandakan tren positif intermediasi perbankan terus berlanjut.

CASA Jadi Kunci Efisiensi Perbankan

Menurut Elvi, dominasi dana murah atau current account saving account (CASA) menjadi salah satu faktor utama yang menopang efisiensi biaya dana perbankan. Dengan biaya dana yang lebih rendah, bank mampu menjaga margin bunga bersih tetap stabil meski dihadapkan pada tekanan suku bunga global.

Kondisi ini sejalan dengan teori bank efficiency structure yang dikemukakan oleh Harold Demsetz, di mana lembaga keuangan dengan efisiensi tinggi cenderung memiliki profitabilitas lebih baik dan daya tahan yang kuat saat terjadi krisis.

Peran Strategis BRI di Sektor UMKM

Salah satu contoh nyata kekuatan perbankan BUMN terlihat pada kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Bank ini mencatat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp40,155 triliun pada kuartal I-2026, atau tumbuh 11,9 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut tidak terlepas dari fokus BRI pada pembiayaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang terbukti menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah gejolak global, sektor UMKM relatif lebih tangguh dan mampu menjaga stabilitas permintaan kredit.

Digitalisasi dan Diversifikasi Perkuat Stabilitas

Selain itu, transformasi digital yang dilakukan perbankan BUMN juga memberikan dampak signifikan. Digitalisasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas inklusi keuangan, sehingga bank lebih mudah menjangkau masyarakat luas.

Di sisi lain, diversifikasi portofolio kredit juga menjadi strategi penting untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali. Dengan penyebaran kredit ke berbagai sektor, risiko konsentrasi dapat ditekan.

Prospek 2026 Masih Positif

Elvi optimistis sektor perbankan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan sepanjang 2026. Selama stabilitas makroekonomi terjaga dan permintaan kredit produktif tetap meningkat, bank-bank BUMN diperkirakan akan terus menjadi motor utama pertumbuhan intermediasi.

“Selama konsumsi domestik, sektor UMKM, dan investasi pemerintah tetap berjalan, bank BUMN seperti BRI akan terus menopang pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Dengan berbagai indikator positif tersebut, sektor perbankan Indonesia dinilai tetap berada di jalur yang kuat meski dihadapkan pada dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online