JFF 2026: DPR Sebut Hoaks Ekonomi Marak, Anak Muda Harus Kritis

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Minggu, 24 Mei 2026 07:27 WIB
JFF 2026: DPR Sebut Hoaks Ekonomi Marak, Anak Muda Harus Kritis

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun (kanan) menyampaikan paparan dalam sesi 1-on-1 Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). ANTARA/Rahid Putra Laksana

Harianjogja.com, JOGJA — Gelombang informasi hoaks di era digital kian deras, terutama yang berkaitan dengan isu ekonomi. Dalam situasi ini, generasi muda dituntut untuk semakin kritis dan tidak mudah percaya pada narasi yang belum tentu benar.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, dalam ajang Jogja Financial Festival 2026 yang digelar di Jogja Expo Centre, Sabtu (23/5/2026). Menurutnya, festival ini menjadi ruang penting untuk meningkatkan literasi keuangan sekaligus melawan bias informasi di tengah maraknya penggunaan media sosial dan teknologi kecerdasan buatan.

“JFF yg digagas oleh LPS ini, bisa menjadi sarana yang dapat kita percaya untuk mengantisipasi bias informasi melalui banyaknya pengguna sosmed dengan penggunaan AI, dan itu semua melalui event ini bisa kita tepis. Generasi muda harus cerdas, kritis, dan bisa memilah informasi,” ujar Misbakhun.

Ia juga menyinggung kondisi nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS. Menurutnya, angka tersebut memang tinggi, namun perlu dipahami dalam konteks ekonomi global yang sedang mengalami tekanan.

“Rupiah pada saat krisis tahun 1998 pada awalnya Rp2400 hingga mencapai angka Rp17.000 lebih, sekarang tahun 2026 jauh diatas itu, pada awal tahun 2026 Rp17.000, saat ini Rp17.800. Artinya ada perubahan mendasar seiring berjalannya waktu. Sekarang dunia dan Indonesia menghadapi tekanan, namun di Indonesia belum ada bank yang gagal bayar, secara fundamental ekonomi kita juga kuat, dan sedikit negara G20 yang tumbuh diatas 5%,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi interaktif, seorang siswi SMK sempat menanyakan bagaimana cara membedakan informasi yang benar di tengah derasnya arus konten di media sosial. Menanggapi hal itu, Misbakhun menekankan pentingnya literasi ekonomi serta peningkatan kualitas diri sebagai bekal utama menghadapi era digital.

Menurutnya, kegiatan seperti JFF 2026 tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga sarana membangun optimisme generasi muda terhadap kondisi ekonomi nasional. Ia bahkan menyebut ribuan peserta yang hadir berpotensi menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

“Edukasi publik seperti JFF 2026 adalah kegiatan literasi keuangan yang menjadi bagian penting untuk meyakinkan masyarakat, bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Katakanlah ada 3000 anak muda yang sekarang hadir, mereka nantinya yang akan menjadi agen perubahan dan memberikan optimisme, Negara ini terlalu kaya untuk dapat dikatakan sebagai negara berpotensi bangkrut. Segala informasi yang mengatakan APBN kita habis, itu hoax,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi filter yang cerdas dalam memilah fakta dan opini. Di tengah tantangan digital, literasi keuangan menjadi kunci penting untuk menjaga stabilitas persepsi publik terhadap kondisi ekonomi nasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online