Harga Emas Diproyeksi Tembus Rp2,9 Juta per Gram

Dionisio Damara Tonce
Dionisio Damara Tonce Minggu, 24 Mei 2026 11:47 WIB
Harga Emas Diproyeksi Tembus Rp2,9 Juta per Gram

Foto ilustrasi penjualan emas Antam. - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA— Harga emas dunia dan logam mulia domestik diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam sepekan ke depan. Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, emas dinilai berpotensi melanjutkan reli jangka panjang.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia berpeluang menembus level resisten baru hingga US$4.943 per troy ounce apabila tren penguatan terus berlanjut.

Kenaikan harga emas global tersebut, menurut dia, berpotensi mengerek harga logam mulia di pasar domestik hingga menyentuh level psikologis baru, yakni Rp2,9 juta per gram.

“Jika penguatan berlanjut, resisten pertama di US$4.606 dengan harga logam mulia mencapai Rp2,78 juta per gram dan resisten kedua di US$4.943 per troy ounce yang bisa membuat logam mulia domestik menyentuh Rp2,9 juta per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

Konflik Geopolitik Dorong Harga Emas Dunia

Ibrahim menilai, memanasnya kembali konflik geopolitik menjadi faktor utama yang menjaga daya tarik emas sebagai instrumen safe haven atau lindung nilai.

Menurut dia, eskalasi konflik Rusia dan Ukraina yang mulai menyasar objek vital seperti kilang minyak mentah telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Situasi tersebut membuat investor cenderung mencari aset aman, termasuk emas, di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik internasional.

Selain konflik di Eropa Timur, ketegangan di kawasan Timur Tengah juga disebut masih menjadi sentimen penguat harga emas dunia.

Meski sempat muncul nota kesepahaman perdamaian terkait pembukaan Selat Hormuz yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pasar disebut masih bersikap hati-hati karena adanya keraguan dari pihak Iran terhadap proses diplomasi yang berlangsung.

“Pasar masih mengantisipasi sikap skeptis dari negosiator Iran terhadap proposal perdamaian yang ditawarkan Amerika Serikat,” katanya.

Pasar Tunggu Arah Kebijakan The Fed

Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar global kini menyoroti arah kebijakan baru Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed setelah Kevin Walsh ditunjuk sebagai gubernur baru bank sentral tersebut.

Pasar saat ini, lanjut Ibrahim, menunggu langkah Kevin Walsh dalam memimpin rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juni mendatang.

Meskipun sebagian besar pelaku pasar masih memperkirakan suku bunga acuan Amerika Serikat bertahan tinggi hingga akhir 2026, kehadiran Walsh dinilai dapat membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter guna mendukung agenda ekonomi Donald Trump.

“Trump sangat tergantung dengan Kevin Walsh untuk menurunkan suku bunga, walaupun jajak pendapat mengatakan bahwa sampai dengan akhir tahun bank sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga,” ujar Ibrahim.

Kondisi tersebut dinilai akan menjadi salah satu penentu arah pergerakan harga emas dunia dalam jangka pendek hingga menengah, termasuk pengaruhnya terhadap harga logam mulia di pasar domestik Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online