Harga Barang Diprediksi Naik Akhir 2026, Ini Penyebabnya

Rika Anggraeni
Rika Anggraeni Sabtu, 11 Juli 2026 13:17 WIB
Harga Barang Diprediksi Naik Akhir 2026, Ini Penyebabnya

Pengunjung berbelanja di gerai Hypermart di Jakarta, Selasa (7/7/2026)./Bisnis-Abdurachman

Harianjogja.com, JAKARTA—Kenaikan harga berbagai barang konsumsi diperkirakan mulai terasa pada kuartal IV/2026. Kondisi ini dipicu oleh masuknya stok baru yang diproduksi saat biaya logistik, energi, dan bahan baku tengah mengalami peningkatan signifikan.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengungkapkan bahwa produk yang beredar saat ini masih berasal dari stok lama, sehingga lonjakan harga belum terlalu terlihat. Namun, situasi dipastikan berubah ketika pelaku usaha mulai menjual barang hasil produksi terbaru.

“Stok baru merupakan hasil produksi saat harga material, logistik, dan energi sudah naik. Maka pada kuartal IV, harga hampir pasti ikut naik,” ujarnya dikutip dari Bisnis, Sabtu (11/7/2026)

Daya Beli Terancam Melemah

Kenaikan harga diperkirakan terjadi menjelang periode konsumsi tinggi seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, hingga Ramadan 2027. Ironisnya, momentum ini justru berpotensi menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang hingga kini belum sepenuhnya pulih secara ekonomi.

Tidak hanya satu sektor, kenaikan harga diprediksi merata di hampir semua kategori barang. Hal ini karena lonjakan biaya produksi berdampak langsung pada seluruh rantai distribusi.

Rupiah Melemah, Harga Ikut Terdorong

Tekanan tambahan datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang jadi, yang pada akhirnya dibebankan ke harga jual.

Ekonom menilai, harga barang berbasis impor berpotensi naik sekitar 4–8% pada akhir tahun. Bahkan, produk elektronik dengan ketergantungan impor tinggi diperkirakan bisa mengalami kenaikan hingga dua digit.

Namun demikian, inflasi nasional diprediksi tetap terkendali di kisaran 3,6% hingga 4,2%. Hal ini disebabkan lemahnya permintaan domestik yang membuat pelaku usaha belum sepenuhnya menaikkan harga.

Strategi Pelaku Usaha: Shrinkflation

Di tengah tekanan biaya, sejumlah produsen diperkirakan akan memilih strategi “shrinkflation”, yakni mengurangi isi atau ukuran produk tanpa menaikkan harga secara langsung. Langkah ini umum dilakukan pada produk kebutuhan sehari-hari seperti sabun, deterjen, dan makanan kemasan.

Pemerintah Fokus Jaga Konsumsi

Pemerintah sendiri berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai program, salah satunya diskon belanja dalam kampanye “Belanja di Indonesia Aja” (BINA). Program ini melibatkan pelaku ritel besar untuk mendorong konsumsi produk dalam negeri.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai langkah tersebut penting untuk menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga di tengah tren penurunan optimisme konsumen.

Risiko Lebih Besar dari Inflasi

Meski inflasi diperkirakan tetap terkendali, para ekonom menilai risiko terbesar justru ada pada melemahnya daya beli masyarakat. Ketika harga naik namun pendapatan tidak ikut meningkat, masyarakat cenderung menekan pengeluaran.

Akibatnya, konsumsi barang non-primer bisa menurun dan berdampak pada penjualan ritel.

Untuk itu, pemerintah disarankan tidak hanya fokus pada pengendalian harga, tetapi juga menjaga stabilitas rupiah, memperkuat pasokan pangan, serta memberikan bantuan tepat sasaran agar tekanan ekonomi tidak semakin dalam.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online