Stok Menumpuk, Impor Beras dan Gula Dipastikan Nihil pada 2026
Pemerintah memastikan tidak ada impor beras dan gula konsumsi sepanjang 2026 seiring stok dan produksi nasional yang mencukupi.
Foto ilustrasi bank sampah anorganik, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai berdampak serius pada industri plastik nasional. Kelangkaan bahan baku memicu lonjakan harga hingga 50% dan meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), Henry Chevalier, menyebut tekanan terhadap industri hilir kian terasa seiring terganggunya pasokan. Bahkan, indikasi pengurangan tenaga kerja mulai muncul di sejumlah perusahaan.
“Ada beberapa yang mungkin mereka sudah mengarah ke sana [PHK], tapi, karena mereka masih punya modal, kita coba survive dulu ya. Namun, arah ke sana [PHK] itu sudah ada beberapa industri kita yang sudah mengarah ke sana,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).
Menurut Henry, penutupan Selat Hormuz membuat pelaku usaha ragu menjalin kontrak baru dengan pelanggan karena ketidakpastian pasokan. Kondisi ini diperparah oleh force majeure dari industri hulu yang memangkas suplai hingga 50% meski sudah ada perjanjian sebelumnya.
Selain itu, proses impor juga terganggu karena perusahaan asuransi enggan menanggung pengiriman melalui jalur tersebut. Negara pemasok seperti China, Thailand, dan Vietnam bahkan mulai membatasi ekspor demi memenuhi kebutuhan domestik.
Akibatnya, harga bahan baku plastik melonjak hingga 40%–50% dan mulai merembet ke harga produk konsumen. “Kantong-kantong kresek saja yang tadinya harga berapa, sekarang sudah naik hampir 50% harganya,” kata Henry.
Ia mengingatkan, kondisi ini berpotensi memicu inflasi lebih luas, terutama pada produk kemasan makanan dan minuman hingga farmasi, di tengah daya beli masyarakat yang sudah melemah.
Secara struktural, industri dalam negeri masih bergantung pada impor sekitar 40%–50% kebutuhan bahan baku plastik, sementara produksi petrokimia domestik baru mampu memenuhi 50%–60%. Ketergantungan ini membuat pasokan dalam negeri rentan saat jalur distribusi global terganggu.
Henry mendorong pemerintah memberikan dukungan melalui kebijakan non-tarif untuk memperkuat industri hulu. Menurutnya, kebijakan tarif justru berpotensi menambah beban biaya produksi.
“Berikanlah fasilitas yang non-tarif barrier. Dengan adanya non-tarif barrier, sehingga mereka punya cost bisa ditekan harga bahan bakunya,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah memastikan tidak ada impor beras dan gula konsumsi sepanjang 2026 seiring stok dan produksi nasional yang mencukupi.
Huawei MatePad Pro Max siap meluncur dengan RAM hingga 20GB, layar OLED 144Hz, dan baterai 10.400 mAh.
KPK umumkan harta kekayaan Presiden Prabowo Subianto 2025 mencapai Rp2,06 triliun. Ini rincian lengkap asetnya.
Simak cara cetak STNK setelah bayar pajak online lewat SIGNAL. Praktis, tanpa antre, dan resmi berlaku 2026.
Nadiem Makarim tampil dengan gelang detektor saat sidang kasus korupsi Chromebook Rp2,18 triliun. Kini berstatus tahanan rumah.
Pemkab Magelang perkuat data kependudukan untuk tekan kemiskinan. Inovasi pelayanan cepat hingga 1 jam terus dikembangkan.