Rupiah Melemah ke Rp17.882 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik Timur Ten

Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa Selasa, 02 Juni 2026 11:37 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.882 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik Timur Ten

Ilustrasi rupiah. - Freepik


Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Selasa (2/6/2026). Pelemahan ini terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS yang didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta data ekonomi AS yang solid.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah dibuka melemah sebesar 0,43% ke level Rp17.882 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya. Hal ini ditunjukkan dari Yen Jepang terhadap dolar AS melemah 0,03%, diikuti dolar Singapura terhadap dolar AS yang melemah 0,01%, won Korea melemah 0,22%, dolar Hong Kong ikut melemah 0,01%. Dolar Taiwan terhadap dolar AS juga terdepresiasi 0,07%, selanjutnya peso Filipina turut terdepresiasi 0,02%.

Sementara itu, yuan China terhadap dolar AS mengalami penguatan 0,03%, dan rupee India menguat 0,01%. Penguatan terhadap dolar AS juga terjadi untuk baht Thailand melemah 0,10%. Adapun, Ringgit Malaysia terpantau stagnan.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen utama pelemahan rupiah datang dari keputusan Iran untuk menghentikan komunikasi dan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat. Di saat yang sama, Teheran juga mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Ketegangan geopolitik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi memperkuat tekanan inflasi global dan meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, faktor yang biasanya mendukung penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain faktor geopolitik, dolar AS juga memperoleh dukungan dari data sektor manufaktur AS yang menunjukkan kinerja lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar.


Kombinasi data ekonomi yang solid dan meningkatnya permintaan aset aman membuat indeks dolar bergerak menguat di pasar global. Di tengah sentimen tersebut, pelaku pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Iran dan AS terkait konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian yang masih tinggi berpotensi menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam jangka pendek.

"Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini," ujarnya, Selasa (2/6/1/2026). Hal itu sejalan dengan penguatan greenback di pasar global dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai akibat risiko geopolitik yang kembali memanas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online