Tekanan Biaya Energi Harus Dikelola dengan Baik

Tim Harian Jogja
Tim Harian Jogja Senin, 15 Juni 2026 07:37 WIB
Tekanan Biaya Energi Harus Dikelola dengan Baik

Ilustrasi BBM/Ist. dok. Pertamina Patra Niaga

Harianjogja.com, JOGJA—Tekanan biaya energi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi perlu dikelola secara hati-hati agar tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas serta mengganggu pemulihan daya beli masyarakat dan aktivitas dunia usaha.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan dampak kenaikan harga bensin nonsubsidi kali ini berbeda dengan penyesuaian harga BBM pada April lalu yang didominasi kenaikan solar nonsubsidi.

Menurutnya, kenaikan harga solar sebelumnya lebih cepat memengaruhi biaya logistik dan distribusi barang. Adapun kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green berpotensi menekan biaya mobilitas usaha, terutama kendaraan operasional berbahan bakar bensin.

Kondisi tersebut dinilai berdampak pada kegiatan distribusi skala kecil, pemasaran, layanan jasa, hingga usaha yang bergantung pada mobilitas tenaga kerja.

"Dalam jangka pendek, dampaknya akan terasa pada kenaikan biaya operasional harian, terutama bagi pelaku usaha yang memiliki intensitas mobilitas tinggi," tutur Shinta, Minggu (14/6/2026).

Dia mencontohkan sektor yang rentan terdampak antara lain usaha jasa, ritel, distribusi skala kecil, kurir atau last-mile delivery, serta usaha yang membutuhkan aktivitas pemasaran dan pelayanan langsung kepada konsumen.
Dari sisi konsumsi, dia menilai lonjakan harga Pertamax juga berpotensi menekan pengeluaran kelompok masyarakat kelas menengah yang menggunakan kendaraan pribadi.

Menurutnya, peningkatan biaya transportasi dapat mengurangi ruang belanja rumah tangga untuk kebutuhan lain. Kondisi tersebut perlu diantisipasi agar tidak berdampak pada permintaan domestik yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Untuk memitigasi dampak tersebut, Shinta mendorong Pemerintah Pusat memperkuat pengendalian inflasi, khususnya pada komponen transportasi, distribusi, dan pangan. Upaya peningkatan efisiensi logistik juga dinilai penting agar kenaikan biaya energi tidak langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga barang secara luas.

"Kami juga melihat pentingnya menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah dan menengah ke bawah, karena konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi," katanya.

Menurut dia, tekanan biaya energi yang tidak dikelola dengan baik berisiko memukul dunia usaha dari dua sisi sekaligus, yakni meningkatnya biaya operasional dan melemahnya permintaan akibat konsumen yang lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Ke depan, pelaku usaha berharap kebijakan harga energi dapat lebih terprediksi dan diiringi langkah mitigasi yang memadai.

"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi memang mengikuti dinamika pasar, tetapi dalam kondisi tekanan biaya yang masih tinggi, pemerintah perlu memastikan agar transmisi kenaikan tersebut tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas dan tidak mengganggu pemulihan daya beli serta aktivitas dunia usaha," tutur Shinta.

Pola Mobilitas

Dampak kenaikan harga Pertamax juga mulai dirasakan masyarakat di DIY. Sebagian warga memilih menyesuaikan pola mobilitas untuk menekan pengeluaran transportasi.

Salah satunya dilakukan Nuryanto, pekerja swasta di Jogja. Ia mengurangi intensitas penggunaan sepeda motor dan mengganti sebagian aktivitas akhir pekan dengan bersepeda keliling desa. Sebelumnya, ia rutin bepergian bersama keluarga ke berbagai destinasi wisata menggunakan kendaraan bermotor.

“Kalau biasanya bepergian menggunakan sepeda motor, sekarang pakai sepeda keliling desa,” katanya.

Meski melakukan penyesuaian aktivitas, Nuryanto mengaku belum berniat beralih ke Pertalite. Menurut dia, antrean pembelian BBM bersubsidi kini semakin panjang sehingga kurang efisien dari sisi waktu.

“Belum kepikiran ganti Pertalite, karena efektivitas waktu, sekarang bisa 10–20 menit [mengantre] karena makin banyak dicari masyarakat,” katanya, Sabtu (13/6).

Strategi berbeda dilakukan Rahmadhan, pekerja swasta di Jogja yang sehari-hari menggunakan skuter matik. Ia memilih tetap menggunakan Pertamax meskipun biaya pengisian meningkat.

“Tetap [menggunakan] Pertamax sih. Dulu setiap ngisi Rp50.000 bisa buat 4–5 hari. Kemarin baru ngisi lagi setelah harga naik, [tapi] Rp50.000 cuma dapat [sekitar] tiga liter, paling cuma bertahan dua hingga tiga hari,” ujarnya, Sabtu.

Rahmadhan mengaku tidak tertarik beralih ke Pertalite karena antreannya semakin panjang. Menurutnya, penggunaan Pertamax masih lebih efisien dibandingkan harus menghabiskan waktu di antrean SPBU. Selain itu, ia belum mempertimbangkan transportasi umum karena pekerjaannya menuntut mobilitas tinggi ke berbagai lokasi dalam satu hari.

Hal serupa juga terjadi di Bantul. Sejumlah pengendara mulai menyesuaikan pengeluaran bulanan, bahkan membatasi penggunaan kendaraan untuk mengurangi biaya transportasi setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

Pantauan pada Sabtu sore di SPBU Ketandan, di Pringgolayan, Banguntapan, Bantul menunjukkan antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite berjalan normal tanpa penumpukan berarti. Sebaliknya, jalur pengisian Pertamax terlihat relatif sepi.
Suyanto, 42, warga di Banguntapan, mengaku kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap anggaran rumah tangganya.

“Biasanya sekali isi penuh sekitar Rp60.000 sekarang bisa mendekati Rp80.000. Harapannya harga BBM tidak naik lagi dalam waktu dekat. Kalau bisa lebih stabil supaya masyarakat bisa mengatur pengeluaran dengan baik,” kata Suyanto.

Sementara itu, Wulan, 29, warga di Sewon, Bantul, memilih tetap menggunakan Pertamax karena menilai BBM tersebut lebih sesuai dengan spesifikasi kendaraannya. Untuk menyiasati kenaikan biaya operasional, ia mulai mengurangi perjalanan yang tidak terlalu mendesak.

“Kalau pindah ke BBM lain saya khawatir berpengaruh ke mesin. Jadi mau tidak mau tetap pakai Pertamax, tapi harus lebih hemat,” katanya.

Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan dan distribusi BBM tetap berjalan normal setelah penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green.

Area Manager Communication, Relation, dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) Taufiq Kurniawan mengatakan penyesuaian harga hanya terjadi pada sebagian produk BBM yang dikonsumsi masyarakat.
“Dengan tetap memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi energi bagi seluruh masyarakat,” ujarnya, Sabtu.

Saat ini, harga Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter. Sementara Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Adapun Pertamax Turbo tetap Rp20.750 per liter, Dexlite tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex tetap Rp24.800 per liter.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis