Dolar AS Melemah, Rupiah Berhasil Tahan di Bawah Rp18.000

Jumali
Jumali Jum'at, 17 Juli 2026 09:34 WIB
Dolar AS Melemah, Rupiah Berhasil Tahan di Bawah Rp18.000

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Kabar baik datang dari pasar keuangan Tanah Air. Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi (17/7/2026) bergerak menguat 6 poin atau 0,03 persen, menjadi Rp17.980 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.986 per dolar AS . Penguatan tipis ini menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar, terutama setelah rupiah berhasil keluar dari level psikologis Rp18.000 pada penutupan perdagangan Kamis kemarin .

Penguatan rupiah pada pagi hari ini tidak lepas dari sejumlah sentimen positif dari dalam negeri. Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah dibuka menguat tipis sebesar 0,02% ke level Rp17.983 pada pukul 09.05 WIB .

Dilansir dari Bisnis.com, Analis Lukman Leong menilai penguatan ini seiring dengan pasar ekuitas yang mulai stabil dan menguat, dengan aliran dana asing yang mulai kembali masuk ke Indonesia . Hal ini sejalan dengan data yang menunjukkan aksi beli investor asing pada perdagangan Kamis kemarin mencapai Rp283,41 miliar di pasar reguler .

Selain itu, pengakuan independensi Bank Indonesia (BI) oleh lembaga pemeringkat S&P Global Ratings turut menopang kepercayaan investor. Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa S&P Global Ratings masih mempercayai independensi lembaga moneter Indonesia, yang didukung oleh kebijakan otoritas fiskal yang berkelanjutan . Pemerintah sendiri juga dinilai terus mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri .

Meskipun demikian, pelemahan rupiah masih berpotensi terjadi mengingat sentimen global yang masih fluktuatif. Lukman Leong memproyeksikan nilai tukar rupiah pada hari ini bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS .

Pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang kembali membuka peluang kenaikan suku bunga dapat menopang penguatan dolar AS . Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta aksi jual saham-saham teknologi yang memicu sikap risk off di kalangan investor juga menjadi sentimen negatif yang membayangi . Namun, dengan kombinasi sentimen positif dari dalam negeri, pelemahan rupiah diperkirakan masih terbatas .

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online