Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS Hari Ini
Dolar Amerika Serikat - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Setelah ditutup melemah ke level Rp17.907 per dolar Amerika Serikat (AS) sehari sebelumnya, pergerakan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan.
Data perdagangan menunjukkan rupiah pada Selasa (30/6/2026) ditutup melemah 0,31% atau 56 poin ke posisi Rp17.907 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru menguat 0,25% ke level 101,36, mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia juga berlangsung bervariasi. Yen Jepang melemah 0,26%, dolar Singapura turun 0,20%, won Korea Selatan terkoreksi 0,80%, dolar Hong Kong melemah 0,02%, dan ringgit Malaysia turun 0,14%. Sementara itu, yuan China menguat 0,11%, dolar Taiwan naik 0,02%, serta baht Thailand menguat 0,13%.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah muncul wacana pembicaraan di Doha di tengah memanasnya situasi akibat saling serang rudal pada akhir pekan yang menguji keberlangsungan gencatan senjata.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan tidak akan ada pertemuan negosiasi dengan pihak Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Ketidakpastian tersebut dinilai mencerminkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni. Kondisi itu juga memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz serta meningkatkan tantangan politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan Kongres Amerika Serikat pada November mendatang.
Selain faktor geopolitik, sentimen global juga dipengaruhi meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga setidaknya satu kali pada tahun ini. Pandangan tersebut menguat setelah bank sentral Amerika Serikat mempertahankan sikap hawkish dalam pertemuan Juni dan sejumlah pejabatnya kembali membuka peluang kenaikan suku bunga.
BACA JUGA
Pelaku pasar juga menanti sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) dijadwalkan dirilis Kamis dengan proyeksi penambahan 114.000 lapangan kerja dan tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,3 persen. Sebelum itu, pasar akan mencermati data JOLTS dan Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board yang dijadwalkan diumumkan pada Selasa malam pukul 21.00 WIB.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada data neraca perdagangan Indonesia periode Mei. Sebelumnya, defisit transaksi berjalan dan pelebaran defisit anggaran pada April menjadi perhatian pasar. Surplus perdagangan yang terus menyusut dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap current account deficit (CAD) sepanjang tahun ini apabila tidak diimbangi dengan masuknya aliran modal asing.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 mencapai US$5,64 miliar. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih melampaui US$10 miliar.
Di sisi lain, inflasi Mei mendekati batas atas target Bank Indonesia akibat kenaikan harga pangan. Meski secara nasional stabilitas harga dan konsumsi masyarakat masih terkendali, tekanan inflasi di sejumlah daerah, terutama di Sumatra, menjadi perhatian karena tercatat lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Pasar juga mencermati dampak penerapan undang-undang baru yang memberikan kekebalan hukum bagi pembeli obligasi yang diterbitkan dana investasi negara Danantara. Kebijakan tersebut memunculkan perhatian pelaku pasar terhadap aspek tata kelola dan transparansi. Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Share