Rupiah Sore Ini Ditutup Melorot ke Rp17.948

Jumali
Jumali Senin, 20 Juli 2026 17:37 WIB
Rupiah Sore Ini Ditutup Melorot ke Rp17.948

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026). Mata uang Garuda ditutup turun 27 poin atau 0,15% ke posisi Rp17.948 per dolar AS di pasar spot.

Pelemahan tersebut terjadi ketika dolar AS masih mendapat dukungan kuat dari meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve menjadi dua faktor utama yang mendorong investor memburu aset berdenominasi dolar.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada berbagai sektor, mulai dari harga barang impor, biaya perjalanan ke luar negeri, hingga biaya produksi industri yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Karena itu, pergerakan kurs selalu menjadi perhatian pelaku usaha maupun konsumen.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi. Peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 0,16%. Rupee India menyusul dengan penurunan 0,14%, sementara baht Thailand melemah 0,02%. Dollar Hong Kong juga ditutup turun tipis sebesar 0,01%.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia berhasil mencatatkan penguatan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi yang paling menonjol setelah melonjak 0,46%. Ringgit Malaysia menguat 0,22%, diikuti dollar Taiwan yang naik 0,18% dan dollar Singapura yang bertambah 0,12%.

Yuan Tiongkok juga mencatatkan penguatan sebesar 0,10%, sedangkan yen Jepang naik tipis 0,02%. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang di kawasan tidak terjadi secara merata karena masing-masing negara dipengaruhi faktor domestik dan sentimen global yang berbeda.

Pelaku pasar saat ini masih menempatkan dolar AS sebagai aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia. Situasi di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat permintaan terhadap dolar tetap tinggi.

Selain faktor geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sejumlah pejabat Federal Reserve masih memberikan sinyal kebijakan yang cenderung hawkish atau ketat, sehingga memunculkan ekspektasi bahwa suku bunga dapat bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, sebagian investor global cenderung mengalihkan dana ke pasar Amerika Serikat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar negara lain.

Meski demikian, pelemahan rupiah pada perdagangan kali ini masih tergolong moderat dibandingkan beberapa mata uang Asia lainnya. Pelaku pasar dalam beberapa hari ke depan akan mencermati data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat serta perkembangan situasi geopolitik global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah dan dolar AS di pasar keuangan internasional.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online