Rupiah Kembali Tertekan Dibuka Melemah ke Rp18.115 per Dolar AS

Jumali
Jumali Selasa, 14 Juli 2026 09:10 WIB
Rupiah Kembali Tertekan Dibuka Melemah ke Rp18.115 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Rupiah belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Setelah melemah cukup tajam pada sesi sebelumnya, mata uang Garuda kembali dibuka di zona merah seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perkembangan situasi geopolitik global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan pada level Rp18.115 per dolar Amerika Serikat. Posisi tersebut melemah 6 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp18.109 per dolar AS.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 44 poin setelah pasar merespons meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas kawasan serta dampaknya terhadap pasokan energi global.

Ketegangan meningkat setelah muncul laporan mengenai serangan balasan Iran terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Pada saat yang sama, kabar mengenai kembali ditutupnya Selat Hormuz turut menambah kekhawatiran investor.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Gangguan di wilayah tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak mentah global dan mendorong lonjakan harga energi.

Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar Amerika Serikat.

Penguatan dolar AS pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor geopolitik, pasar juga masih mempertimbangkan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Lonjakan harga energi berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat sehingga membuka peluang bagi The Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Ekspektasi tersebut menjadi sentimen yang kurang menguntungkan bagi mata uang emerging market karena membuat aset berbasis dolar tetap menarik di mata investor global.

Meski demikian, pasar masih menemukan sejumlah faktor yang dapat menopang kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia.

Salah satunya datang dari keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan global yang terjadi saat ini.

Status investment grade yang tetap dipertahankan juga menjadi sinyal positif bagi investor karena mencerminkan keyakinan terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas fiskal dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah.

Sejumlah analis menilai sentimen positif dari peringkat kredit tersebut dapat membantu membatasi pelemahan rupiah meskipun tekanan eksternal masih cukup besar.

Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif mengikuti perkembangan geopolitik dan dinamika pasar global.

Pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat yang dinilai berpotensi menjadi katalis penting bagi arah pergerakan dolar AS dalam beberapa hari ke depan.

Jika data inflasi menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi, peluang The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga ketat dapat semakin menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang.

Untuk perdagangan hari ini, analis memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.150 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah rupiah, sementara pasar domestik terus menunggu kepastian perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter Amerika Serikat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online