Siang Ini, Rupiah Tembus Rp18.146 per Dolar AS

Jumali
Jumali Senin, 13 Juli 2026 12:27 WIB
Siang Ini, Rupiah Tembus Rp18.146 per Dolar AS

Ilustrasi rupiah. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Nilai tukar rupiah siang hari ini, Senin (13/7/2026), mengalami pelemahan cukup dalam. Rupiah kian terpuruk di level Rp18.000 per dolar AS. Mengutip data Bloomberg, rupiah pada pukul 11.43 WIB berada di level Rp18.146 per dolar AS.

Sejumlah mata uang regional juga terpantau melemah atas dolar AS. Baht Thailand melemah ke 33,38 per dolar AS, won Korea Selatan terkoreksi menjadi 1.506,69 per dolar AS, dan ringgit Malaysia tertekan menjadi 4,0815 per dolar AS. Pelemahan mata uang regional ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap dolar AS bersifat luas, tidak hanya dialami oleh rupiah.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai nilai tukar rupiah berpotensi melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timteng yang menyebabkan lonjakan pada harga minyak mentah dunia," ungkap dia, dikutip dari Antara, Senin (13/7/2026).

Mengutip Anadolu, ketegangan di kawasan kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir seiring aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran. Minggu (12/7/2026), Iran mengklaim telah melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman sebagai balasan atas serangan Washington terhadap sejumlah target di wilayahnya. AS kembali melancarkan serangan ke beberapa wilayah selatan Iran pada Senin (13/7/2026) pagi.

Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan sejumlah ledakan terjadi di Bandar Abbas, Sirik, Pulau Qeshm, dan Jask di Provinsi Hormozgan. Kantor berita Mehr juga melaporkan ledakan di Bushehr dan Kangan yang berada di wilayah selatan Iran. Eskalasi konflik ini mendorong harga minyak mentah dunia yang berpotensi semakin menekan nilai tukar rupiah mengingat Indonesia masih menjadi negara importir minyak.

Sentimen lain yang menjadi perhatian pasar adalah rilis data inflasi AS periode Juni yang dijadwalkan terbit besok. Inflasi diperkirakan turun 0,1 persen secara bulanan (month on month/mom) dan melambat dari 4,2 persen menjadi 3,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Jika inflasi AS turun lebih rendah dari perkiraan, hal ini dapat mendorong ekspektasi penurunan suku bunga acuan AS yang akan melemahkan dolar. Namun, jika inflasi tetap tinggi, dolar akan semakin perkasa dan rupiah berisiko melemah lebih dalam.

Para pelaku pasar kini menantikan data inflasi AS sebagai katalis berikutnya yang akan menentukan arah pergerakan rupiah. Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk terus memantau perkembangan nilai tukar dan mengambil langkah antisipatif terhadap risiko fluktuasi mata uang. Bank Indonesia dipastikan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online