Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.110 per Dolar AS Hari Ini

Akbar Maulana al Ishaqi
Akbar Maulana al Ishaqi Kamis, 16 Juli 2026 13:47 WIB
Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.110 per Dolar AS Hari Ini

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik global dan kondisi fiskal dalam negeri.

Berdasarkan proyeksi pelaku pasar, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS setelah pada perdagangan sebelumnya berhasil menguat tipis.

Rupiah Menguat pada Penutupan Perdagangan Rabu

Data Doo Financial Futures menunjukkan rupiah ditutup menguat 23 poin atau 0,13% menjadi Rp18.068 per dolar AS pada Rabu (15/7/2026). Sementara itu, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) tercatat berada di level 100,92 atau relatif tidak berubah dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Meski demikian, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan penguatan tersebut belum akan berlanjut pada perdagangan hari ini.

"Sore ini mata uang rupiah ditutup menguat 23 poin di level Rp18.068, dari penutupan sebelumnya di level Rp18.091. Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp18.060 sampai Rp18.110," kata Ibrahim, Rabu (15/7/2026).

Konflik Geopolitik Masih Menekan Rupiah

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Ia menjelaskan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur milik Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Selain itu, Iran juga kembali menyatakan menutup Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut dinilai memperbesar ketidakpastian pasar global setelah sebelumnya sempat tercapai gencatan senjata pada Juni 2026.

"Kenaikan ketegangan dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu akan mengarah pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran," jelasnya.

Kondisi Fiskal Domestik Ikut Jadi Sorotan

Selain faktor eksternal, Ibrahim menilai sentimen domestik juga masih memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ia menyebut kebutuhan pembiayaan utang pemerintah secara bruto pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun. Di sisi lain, pemerintah juga dijadwalkan membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun pada tahun ini.

Adapun posisi utang pemerintah hingga 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp9.638 triliun.

Menurut Ibrahim, tambahan pembiayaan utang neto sekitar Rp868 triliun serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan menambah nilai utang sekitar Rp100 triliun berpotensi mendorong posisi utang pemerintah meningkat.

"Dengan tambahan pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan menambah nilai utang sekitar Rp100 triliun, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp10.600 triliun," kata Ibrahim.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik geopolitik serta kondisi fiskal nasional yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online