Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.992 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa Senin, 20 Juli 2026 10:37 WIB
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.992 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin (20/7/2026) dengan pelemahan ke level Rp17.992 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperkuat dolar AS.

Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 0,40% ke posisi Rp17.992 per dolar AS. Meski mendapat tekanan dari sentimen global, pelaku pasar juga mulai mencermati agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pekan ini sebagai faktor penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Rupiah Melemah Bersama Sejumlah Mata Uang Asia

Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga bergerak turun terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan.

Adapun mata uang Asia yang melemah meliputi:

Dolar Taiwan turun 0,29%
Peso Filipina melemah 0,16%
Baht Thailand terkoreksi 0,02%
Dolar Hong Kong turun 0,01%

Di sisi lain, mayoritas mata uang Asia justru berhasil mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.

Rinciannya sebagai berikut:

Won Korea menguat 0,32%
Ringgit Malaysia naik 0,21%
Rupee India menguat 0,07%
Dolar Singapura naik 0,05%
Yuan China menguat 0,04%
Yen Jepang naik 0,03%

Ketegangan Timur Tengah Jadi Sentimen Utama

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperkuat indeks dolar AS.

Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan permintaan investor terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.

RDG Bank Indonesia Dinilai Berpotensi Menahan Pelemahan

Meski demikian, Lukman menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi terbatas karena masih ditopang sejumlah sentimen positif dari dalam negeri.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini.

Lukman memperkirakan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan sehingga dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sekaligus menopang nilai tukar rupiah.

"Untuk domestik, RDG BI pada hari Rabu diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga dan mendukung rupiah," ujarnya, Senin (20/7/2026).

Dana Asing Mulai Masuk ke Pasar Domestik

Selain prospek kenaikan suku bunga, arus dana asing yang kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia juga dinilai menjadi sentimen positif bagi rupiah.

Menurut Lukman, investor asing mulai melakukan bargain hunting karena menilai valuasi aset domestik, terutama di pasar saham, sudah cukup menarik.

"Sentimen positif lainnya adalah masuknya dana asing yang melakukan bargain hunting di pasar ekuitas," katanya.

Dengan mempertimbangkan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online