Rupiah Dibuka di Rp18.126 per Dolar AS, Tertekan Data Tenaga Kerja AS
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp18.126 per dolar AS pada awal perdagangan Senin. Penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak jadi pemicu.
Uang rupiah. - Ilustrasi Antara
Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari menguatnya dolar AS hingga penantian pelaku pasar terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2026.
Selain itu, investor juga mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp18.027 per Dolar AS
Berdasarkan data Doo Financial Futures, pada penutupan perdagangan Selasa (4/8/2026), rupiah melemah 0,17% ke posisi Rp18.027 per dolar AS.
Pada periode yang sama, indeks dolar Amerika Serikat (DXY) menguat 0,10% ke level 99,99.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan penguatan dolar AS dipicu data aktivitas manufaktur Amerika Serikat yang lebih baik dibandingkan perkiraan pasar.
"Rupiah ditutup melemah ke level Rp18.027 per dolar AS. Pelemahan dipicu oleh penguatan dolar AS setelah data aktivitas manufaktur AS dirilis lebih kuat dari perkiraan," ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Ketidakpastian Timur Tengah dan Data PDB Jadi Perhatian Pasar
Selain data ekonomi Amerika Serikat, pasar juga dibayangi meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Sentimen tersebut muncul setelah Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai adanya rencana pembicaraan damai.
Dari dalam negeri, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal II/2026 yang dijadwalkan dirilis pada Rabu.
Pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat dibandingkan periode sebelumnya sehingga berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Investor Tunggu Data JOLTS Amerika Serikat
Perhatian investor juga tertuju pada rilis Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) Amerika Serikat.
Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang digunakan pasar untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus membaca arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih akan dipengaruhi sentimen global maupun domestik.
Rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS, dengan fokus investor tetap tertuju pada data ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut Melemah
Pada pembukaan perdagangan Selasa (4/8/2026), rupiah dibuka melemah ke level Rp18.026 per dolar AS.
Pelemahan juga terjadi pada sebagian besar mata uang Asia terhadap dolar AS.
Yen Jepang mencatat pelemahan terbesar sebesar 0,32%, disusul baht Thailand yang turun 0,13%.
Sementara itu, yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,05%, sedangkan peso Filipina dan dolar Singapura turun 0,04% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, won Korea menjadi mata uang dengan penguatan terbesar terhadap dolar AS sebesar 0,31%, diikuti dolar Taiwan yang naik 0,09%, serta rupee India yang menguat 0,06%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Timnas Indonesia masih berpeluang lolos ke semifinal Piala AFF 2026 meski kalah 0-3 dari Vietnam. Berikut skenario yang harus terjadi.
AS mengklaim hampir mencapai kesepakatan dengan Iran untuk membuka Selat Hormuz. Namun, Iran membantah telah tercapai kesepakatan.
Nadiem Makarim menjalani sidang perdana banding kasus Chromebook. Tim kuasa hukum meminta majelis hakim mengkaji ulang putusan pengadilan tingkat pertama.
Dishub DIY menanggapi keluhan asap hitam Trans Jogja. Sebanyak 74 persen armada berusia di atas 7 tahun dan tetap menjalani perawatan rutin.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di tengah penguatan dolar AS dan penantian data PDB Indonesia.