Profil Blok Natuna D-Alpha Punya Gas 222 TCF, Dikembangkan Hashim Djojohadikusumo

M. Ryan Hiayatullah
M. Ryan Hiayatullah Sabtu, 19 September 2026 13:27 WIB
Profil Blok Natuna D-Alpha Punya Gas 222 TCF, Dikembangkan Hashim Djojohadikusumo

CEO Arsari Group Hashim Djojohadikusumo dalam seremoni Final Investment Decision (FID) untuk Pengembangan Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja (WK) Duyung/Dok. SKK Migas

Harianjogja.com, JAKARTA— Wilayah Kerja (WK) Natuna D-Alpha di Kepulauan Riau kembali memasuki babak baru pengembangan setelah PT Nations Petroleum, salah satu entitas usaha Arsari Group, memenangkan lelang penawaran langsung wilayah kerja migas tersebut.

Penetapan pemenang lelang itu mengacu pada Surat Keputusan Menteri ESDM No. 108.K/MG.4/DJM/2026 tanggal 17 September 2026. WK Natuna D-Alpha merupakan salah satu blok migas yang ditawarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui lelang Wilayah Kerja Minyak dan Gas Bumi Tahap I Tahun 2026.

Perusahaan milik pengusaha Hashim Djojohadikusumo tersebut memberikan komitmen pasti selama tiga tahun pertama senilai US$103,3 juta atau sekitar Rp1,83 triliun dengan asumsi kurs Rp17.735 per US$. Selain itu, terdapat bonus tanda tangan senilai US$200.000.

Komitmen Pengembangan Natuna D-Alpha

Komitmen pasti yang disiapkan PT Nations Petroleum mencakup berbagai kegiatan studi, pengadaan data, pembangunan fasilitas, hingga pengeboran sumur.

Rinciannya meliputi tiga paket G&G Study, akuisisi dan pemrosesan data seismik 3D seluas 591 kilometer persegi, satu Pilot Unit Design and Engineering, serta tiga paket CO2 Integrated Study.

Perusahaan juga berkomitmen melakukan satu Manufacturing, Procurement and Construction, dua paket EPC Design Cost, satu sumur appraisal, satu sumur eksplorasi, serta satu paket Operation, Multi-Mode Testing and Monitoring.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen pasti dalam tiga tahun pertama pengelolaan WK Natuna D-Alpha.

Natuna D-Alpha Punya Potensi Gas 222 TCF

WK Natuna D-Alpha berada sekitar 250 kilometer dari Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau. Wilayah tersebut memiliki luas 10.291,03 kilometer persegi dan sebelumnya merupakan bagian dari Blok East Natuna.

Blok East Natuna dikenal memiliki salah satu potensi cadangan gas terbesar di Indonesia. Kementerian ESDM memperkirakan potensi gas di wilayah tersebut mencapai 222 triliun kaki kubik atau trillion cubic feet (TCF).

Angka itu sekitar 2,5 kali lipat dari potensi Blok Masela. Namun, besarnya potensi tersebut diikuti tantangan teknis karena kandungan karbon dioksida (CO2) di dalam gas mencapai lebih dari 70%.

Dengan komposisi tersebut, gas yang diperkirakan berpotensi dieksploitasi berada di kisaran 46 TCF.

Kandungan CO2 yang tinggi membuat pengembangan Natuna D-Alpha membutuhkan teknologi untuk memisahkan sekaligus menangani karbon dioksida tersebut.

Karbon yang telah dipisahkan tidak dapat dilepas begitu saja sehingga membutuhkan pengelolaan. Salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah penangkapan dan penyimpanan karbon.

Pengembangan Natuna Berlangsung Hampir Lima Dekade

Pengembangan Natuna D-Alpha bukanlah proyek baru. Berdasarkan catatan Bisnis, pengembangan wilayah tersebut telah berlangsung hampir lima dekade sejak pertama kali ditemukan pada 1973.

Namun, berbagai upaya pengembangan blok tersebut beberapa kali terhenti.

ExxonMobil menjadi salah satu perusahaan pertama yang tertarik mengembangkan blok tersebut. Perusahaan itu memperoleh hak pengelolaan pada 1980.

Pemerintah kemudian menghentikan kontraknya pada 2007 karena tidak terdapat perkembangan dalam pengelolaan blok.

Setahun setelahnya, pemerintah menyerahkan pengelolaan Blok East Natuna kepada Pertamina. ExxonMobil kembali bergabung pada 2010 bersama Total dan Petronas.

Dalam perkembangannya, posisi Petronas kemudian digantikan oleh PTT Exploration and Production (PTT EP), perusahaan asal Thailand.

Namun, konsorsium tersebut akhirnya tidak berlanjut. ExxonMobil memutuskan keluar pada 2017 karena menilai pengembangan blok tersebut tidak layak secara investasi.

PTT EP kemudian juga tidak melanjutkan kerja sama dengan Pertamina.

Pertamina Kembalikan WK Natuna D-Alpha

Pada akhir 2022, Pertamina memproses pengembalian WK Natuna D-Alpha kepada pemerintah.

Meski demikian, Pertamina tetap mempertahankan pengelolaan sebagian wilayah East Natuna, yakni Lapangan Arwana dan Barakuda.

Kedua lapangan tersebut diperkirakan memiliki sumber daya minyak sekitar 2,2 miliar barel minyak atau billion barrels of oil (BBO). Sementara itu, sumber daya gasnya diperkirakan mencapai 300 miliar kaki kubik atau billion standard cubic feet (Bscf).

Potensi tersebut berada di area konsesi seluas 10.484,39 kilometer persegi.

Dengan dimenangkannya lelang oleh PT Nations Petroleum, WK Natuna D-Alpha kembali memasuki fase pengembangan baru. Komitmen pasti US$103,3 juta untuk tiga tahun pertama menjadi bagian awal dari upaya menggarap wilayah yang memiliki potensi gas besar tetapi menghadapi tantangan kandungan CO2 tinggi tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online